Baru.png

MUI Babel Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas, Selesaikan Konflik Timah Lewat Dialog

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Pangkalpinang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengajak masyarakat untuk menjaga kondusivitas dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan pertambangan timah.

Seruan itu disampaikan Ketua MUI Babel, Prof. Hatamar Rasyid di Pangkalpinang, menyusul meningkatnya dinamika pertambangan timah di daerah.

Menurutnya, pertambangan timah tidak boleh menjadi sumber konflik baru di tengah masyarakat. Ia menilai dialog tiga pihak antara masyarakat, PT Timah Tbk dan pemerintah adalah jalan terbaik.

“Timah merupakan kekayaan alam yang perlu dikelola dengan baik karena menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Bangka Belitung. Di sisi lain, pengelolaannya juga harus memperhatikan kepentingan negara dan kelestarian lingkungan,” katanya.

Oleh karenanya Ia mengimbau warga agar tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan tertentu. Ia meminta semua persoalan terkait tambang diselesaikan melalui musyawarah.

“Kami dari MUI Provinsi Bangka Belitung mengajak masyarakat untuk berpikir tenang dan tidak terprovokasi dengan kepentingan-kepentingan yang ada. Segalanya itu didialogkan dengan PT TIMAH. Kita budayakan dialog dan musyawarah untuk kemaslahatan bersama,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang dibangun secara berjenjang. Pembahasan, kata dia, perlu melibatkan pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan PT Timah agar masyarakat mendapat penjelasan yang jelas.

“Jadi sebaiknya memang harus ada pembahasan antara PT TIMAH dan masyarakat. Tentu ada pembahasan yang dibawa dari pusat dan PT TIMAH itu sendiri, sehingga masyarakat dapat menerima penjelasan yang lebih jelas,” ujarnya.

Selain aspek sosial, Hatamar mengingatkan pengelolaan timah harus bertanggung jawab terhadap lingkungan. Ia menegaskan aktivitas pertambangan tidak boleh merusak ekosistem.

Ia berpandangan sumber daya timah adalah kekayaan yang harus dikelola secara baik dan berkelanjutan.

“Perlu duduk bersama dan membudayakan dialog serta musyawarah untuk kemaslahatan bersama, dengan tetap menjaga lingkungan,” tutupnya.

(JJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *