Cakrawalanational.news–Pangkalpinang, Gangguan penerbangan akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali menyeret Bangka Belitung (Babel) ke persoalan lama. Pasalnya, minimnya alternatif konektivitas antar pulau.
Dua bulan setelah bertemu perusahaan Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (PT ASDP) Indonesia Ferry, DPRD Babel kini menagih kepastian. Rencana kapal cepat Jakarta–Bangka–Belitung belum juga menemui titik terang.
Wakil Ketua DPRD Babel, Edi Nasapta, menilai provinsi kepulauan ini tidak bisa terus bergantung pada moda udara. Ketika penerbangan lumpuh, ekonomi Babel ikut terhenti.
“Keinginan kami sederhana. Jakarta, Pulau Bangka dan Pulau Belitung harus tetap terhubung dalam keadaan apa pun. Kalau konektivitas terjaga, arus orang dan barang akan terus berjalan,” kata Edi di Pangkalpinang, Senin (7/9/2026).
Dorongan kapal cepat ini buntut pertemuan Edi dengan Direksi ASDP di Jakarta pada 7 Juli 2026. Saat itu ASDP berjanji melakukan kajian dan memberi kepastian dalam 2 bulan.
Tepat 7 September, batas waktu itu habis. Edi meminta ASDP segera buka hasil kajian ke publik dan Pemprov Babel.
“Kami menghormati proses kajian yang sedang dilakukan ASDP. Namun, setelah dua bulan tentu kami berharap sudah ada gambaran awal. Apa hasil kajiannya, apa kendalanya, pelabuhan mana yang memungkinkan, kapal seperti apa yang dibutuhkan,” ujarnya.
Ia menekankan kajian jangan hanya fokus ke Belitung. Data BPS 2026 menunjukkan 78,8% penduduk Babel ada di Pulau Bangka, termasuk Pangkalpinang. Sementara Belitung hanya 21,2%.
“Ini bukan hanya kebutuhan Belitung. Pulau Bangka penduduknya jauh lebih banyak dan aktivitas masyarakatnya juga tinggi. Kalau Bangka dan Belitung masuk dalam satu perencanaan, peluang kapalnya berjalan secara berkelanjutan juga semakin kuat,” jelasnya.
Edi mengusulkan Pelabuhan Pangkalbalam untuk Bangka dan Tanjung Ru/Tanjungpandan untuk Belitung. Keduanya terhubung ke Tanjung Priok dalam satu sistem pelayanan.
Menurut Edi, kapal cepat bukan untuk mematikan penerbangan. Kedua moda harus berdampingan dan memberi pilihan ke masyarakat.
“Kalau harga tiket pesawat murah, penerbangan akan ramai dan itu baik. Kalau kapal cepat tersedia dengan harga terjangkau, kapal juga akan memiliki pasarnya sendiri. Ada yang mengutamakan waktu, ada yang ingin bawa barang lebih banyak,” ungkapnya.
“Jangan melihatnya sebagai perebutan penumpang antara kapal dan pesawat. Yang harus kita lakukan adalah memperbesar keseluruhan arus perjalanan,” tegasnya.
Ia melihat dampaknya akan langsung ke ekonomi bawah. Pelabuhan yang hidup akan menggerakkan warung, ojek, taksi, oleh-oleh, hingga penginapan.
Argumen Edi dikuatkan data. Ekonomi Babel triwulan II 2026 tumbuh 4,01%. Sektor akomodasi dan makan minum melonjak 33,29%. Perdagangan berkontribusi 15,25%.
Jumlah tamu hotel Juli 2026 naik 38,81% dibanding Juli 2025. Penumpang laut Jan–Juli 2026 juga naik 6,85%.
“Data itu memperlihatkan bahwa pergerakan orang mempunyai pengaruh besar terhadap hotel, rumah makan, perdagangan, dan UMKM. Kalau konektivitas laut cepat dibuka, ruang pertumbuhan sektor-sektor tersebut akan semakin besar,” katanya.
Karena itu ia mendesak Gubernur Babel menggalang 7 kabupaten/kota. Jangan jalan sendiri-sendiri.
“Kami meminta Pemerintah Provinsi untuk memberikan perhatian serius. Pemprov perlu menggalang kekuatan seluruh kabupaten dan kota karena manfaat konektivitas ini bukan hanya untuk daerah yang memiliki pelabuhan,” tegasnya.
Edi menutup dengan tuntutan konkret, sebutkan rute, jenis kapal, waktu tempuh, tarif, frekuensi, dan jadwal uji coba.
“Ini bukan sekadar berbicara tentang sebuah kapal. Ini menyangkut ketahanan transportasi, perdagangan, pariwisata, lapangan kerja dan masa depan ekonomi Bangka Belitung,” tutupnya.
(HR75)










Tinggalkan Balasan