Cakrawalanational.news–Jakarta, Indonesia menempati peringkat kedua di Asia dengan jumlah kasus gagal jantung tertinggi setelah Tiongkok. Kondisi itu dinilai mencerminkan lemahnya pengendalian faktor risiko penyakit kardiovaskular di masyarakat.
Berdasarkan data Global Burden of Disease atau GBD, prevalensi gagal jantung di Indonesia berada di atas sejumlah negara kawasan, termasuk Malaysia yang menempati peringkat ketiga.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah FKUI, dr. Rony Marethianto Santoso mengatakan gagal jantung merupakan tahap akhir dari berbagai penyakit jantung akibat faktor risiko kronis yang tidak ditangani sejak dini.
“Gagal jantung merupakan manifestasi akhir dari suatu penyakit jantung. Jadi, ini adalah akumulasi dari banyak hal yang akhirnya berkembang menjadi gagal jantung,” kata Rony dalam Media Gathering Primaya Hospital Tangerang di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Ia menyebut tingginya angka kasus menjadi masalah serius karena menurunkan kualitas hidup pasien dan meningkatkan risiko rawat inap berulang.
Rony menjelaskan penyebab utama tingginya kasus di Indonesia adalah rendahnya pengendalian faktor risiko. Hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, gangguan katup, efek samping kemoterapi, hingga komplikasi kehamilan dapat menurunkan fungsi pompa jantung bila tidak ditangani.
Ia menekankan pentingnya pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, serta pemeriksaan kesehatan berkala.
“Kalau faktor risikonya tidak terkontrol dengan baik, akhirnya jadi gagal jantung. Kebanyakan orang Indonesia faktor risiko penyakit kardiovaskularnya tidak terjaga,” ujarnya.
Hipertensi yang dibiarkan bertahun-tahun membuat jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang otot jantung bisa melemah hingga gagal berfungsi. Diabetes yang tidak terkontrol juga memicu kardiomiopati diabetik, yaitu kerusakan otot jantung akibat gula darah tinggi terus-menerus.
Pola makan tinggi garam dan lemak, minim aktivitas fisik, serta rendahnya kesadaran cek kesehatan rutin turut memperparah kondisi. Akibatnya banyak pasien baru mengetahui penyakitnya saat fungsi jantung sudah menurun.
(Red)











Tinggalkan Balasan