Baru.png

Harga Timah Naik ke Rp200 Ribu, Penambang Beltim Bernapas Lega

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Manggar Belitungtimur, Dampak kenaikan harga timah mulai dirasakan masyarakat penambang rakyat di Kabupaten Belitung Timur (Betim) Kepulauan Babel. Setelah aksi penyampaian aspirasi di kantor PT TIMAH, harga timah yang kini berada di kisaran Rp200 ribu per kilogram memberi ruang bagi penambang untuk menata kembali perekonomian keluarga.

Hal itu dirasakan Didi, 48 tahun penambang asal Desa Sukamandi, Kecamatan Damar. Pria yang lebih dari 20 tahun menggantungkan hidup dari tambang timah itu mengaku bersyukur dengan harga saat ini.

“Alhamdulillah, semenjak harga ini Rp200 ribu, ekonomi kita terbantu. Pertama, dapur mulai stabil, perekonomian lebih stabil. Anak-anak juga nyaman untuk bersekolah,” ujar Didi, Rabu 19 Agustus 2026.

Menurut Didi, meski hasil tambang tidak selalu banyak, harga yang lebih baik membuat 1-2 kilogram timah tetap berarti bagi keluarga.

“Walaupun satu kilo, dua kilo kita dapat, kita bisa membiayai keluarga dengan lebih baik. Tidak terlalu kekurangan dalam menopang ekonomi keluarga,” katanya.

Kondisi berbeda dirasakan saat harga timah di kisaran Rp100 ribuan. Dengan biaya operasional besar, pendapatan sering tidak cukup.

“Kalau harga yang kemarin seratus lebih, kita kekurangan. Sementara biaya operasinya besar. Ekonomi keluarga juga harus ditopang dengan baik, anak-anak harus sekolah,” tuturnya.

Saat harga rendah, Didi mengaku pernah menjual peralatan hingga menggadaikan barang berharga. Ia menyebut tekanan ekonomi juga merembet ke rumah tangga.

“Semenjak harga timah mahal, Alhamdulillah kita berkeluarga juga tenang. Bisa menjalani kehidupan dengan baik. Tapi kalau timah murah, yang tidak bertengkar pun bisa bertengkar dengan keluarga karena masalah ekonomi,” katanya.

Didi mengaku puas dengan harga Rp200 ribu per kilogram. Ia menilai PT Timah sudah mengerti kondisi masyarakat.

“Puas, sangat puas. PT TIMAH dapat mengerti masyarakat dan memikirkan ekonomi kita. Karena memang timah sekarang sangat sulit didapatkan,” ujarnya.

Ia berharap harga stabil terus dijaga agar penambang dan perusahaan bisa tumbuh bersama.

“PT TIMAH harus siap berdiri untuk rakyat. Kalau investor asing, keuntungan tentu ada yang dibawa keluar. Tapi kalau PT TIMAH, saya yakin keuntungannya akan kembali kepada rakyat Indonesia,” katanya.

Didi juga mendorong dialog antara perusahaan, pemerintah, dan penambang terkait akses wilayah tambang, kepastian usaha, hingga jaminan sosial.

“Apa yang kurang dari penambang, apa yang kurang dari PT TIMAH, harus dibicarakan. Baik masalah lahan tambang, perkembangan ekonomi, maupun jaminan sosial bagi penambang. Itu harus disinergikan,” ujarnya.

Ia menyebut aksi kemarin sebagai bentuk keresahan saat tidak ada titik temu. Namun dialog tetap jalan terbaik.

“Saya sedih sebenarnya dengan aksi kemarin. Sedih karena PT TIMAH itu punya kita sendiri. Tapi masyarakat juga merasa tidak punya jalan lain,” pungkasnya.

(HR75)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *