telkomsel

Dilema Meritokrasi di SMPN 1 Beringin, Ketika Rekam Jejak Kedisiplinan Kepsek Baru Memantik Gugatan Publik

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Deliserdang, Ruang publik di Kecamatan Beringin, Deli Serdang, mendadak riuh. Pelantikan kepala sekolah baru di UPT SPF SMP Negeri 1 Beringin pada Rabu (3/6/2026) di Aula Cendana Kantor Bupati kemarin, menyisakan sebuah tanda tanya besar yang kini menggelinding menjadi bola salju di tengah masyarakat.

Langkah Bupati Deli Serdang dalam merombak jajaran kepala satuan pendidikan sejatinya membawa misi besar: Reformasi Birokrasi dan Peningkatan Mutu. Namun, penunjukan Indra Septario Siahaan, S.Si untuk menakhodai SMPN 1 Beringin justru dinilai kontradiktif oleh ekosistem sekolah itu sendiri. Ekspektasi publik terhadap lahirnya pemimpin yang berintegritas tinggi kini berbenturan dengan realitas catatan kedisiplinan masa lalu yang disorot tajam.

Anomali di Balik Meja Kelas, Aspirasi dari Akar Rumput

Selama ini, narasi yang berkembang di internal sekolah justru memotret realitas yang buram. Berdasarkan penelusuran lapangan, figur yang kini resmi memegang tongkat komando sekolah tersebut justru lebih lekat dalam ingatan warga sekolah karena interaksinya yang tinggi di area luar kelas, salah satunya pos pengamanan sekolah, ketimbang pemenuhan jam tatap muka akademis secara konsisten.

“Ini bukan soal suka atau tidak suka, ini soal keadilan kompetensi,” ungkap salah seorang tenaga pendidik senior di SMPN 1 Beringin dengan syarat anonimitas yang ketat.

Menurutnya, promosi jabatan yang tidak berbasis pada rekam jejak pengabdian yang nyata berisiko meruntuhkan mentalitas kerja guru-guru lain yang selama ini bertaruh waktu dan disiplin demi anak didik. “Sistem reward and punishment kita sedang diuji. Kalau preseden seperti ini dibiarkan, kita khawatir motivasi guru untuk berprestasi akan melorot,” tambahnya.

Kegelisahan serupa menjalar ke bangku-bangku kelas. Para siswa yang setiap hari dijejali doktrin tentang pentingnya disiplin, ketepatan waktu, dan larangan membolos, kini dihadapkan pada kontras sosial yang membingungkan.

“Kami selalu diminta patuh aturan. Tapi kalau keteladanan dari atasannya sendiri dipertanyakan sejak awal, kami jadi bingung melihat standar penilaian yang sebenarnya,” aku salah seorang siswa kelas VIII berinisial A.

Menguji Komitmen Evaluasi Dinas Pendidikan

Polemik ini secara otomatis melempar bola panas ke arah Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang di bawah kepemimpinan Suparno, S.Sos., MSP. Publik kini menagih akuntabilitas dari instrumen penilaian atau assessment yang digunakan dalam menentukan kelayakan seorang ASN untuk menduduki jabatan struktural.

Secara regulasi, Dinas Pendidikan menyatakan bahwa setiap penempatan pejabat telah melalui koridor pemenuhan administratif dasar. Namun, desakan publik yang kuat membuat dinas tidak bisa menutup mata terhadap fakta sosial di lapangan. Pihak dinas berjanji akan mengaktifkan fungsi pengawasan melekat secara berkala melalui tim pengawas guna memantau jalannya kepemimpinan pasca-pelantikan ini.

Langkah monitoring ini sejalan dengan janji politik yang kerap digaungkan oleh Bupati Deli Serdang mengenai evaluasi ketat performa pejabat dalam kurun waktu singkat. Jika dalam perkembangannya performa kepemimpinan di SMPN 1 Beringin justru membawa kemunduran akibat masalah kedisiplinan yang berlanjut, tindakan tegas berupa reposisi jabatan menjadi sebuah keniscayaan taruhan reputasi pemerintah daerah.

Sampai laporan ini diturunkan, upaya konfirmasi resmi jurnalis kepada Indra Septario Siahaan maupun pihak terkait mengenai detail keberatan publik atas rekam jejak kedisiplinannya masih terus berjalan. Ruang klarifikasi tetap terbuka lebar sebagai pemenuhan prinsip keberimbangan berita.

(M. Habil Syah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *