telkomsel

Jalan Kebun 600 Meter di Desa Nangka Dibuka Lagi, Petani: “10 Tahun Muter Lewat Hutan”

DPRD Babel Mediasi PT BPP, Warga: Kami Tak Tolak Pabrik, Cuma Minta Akses

banner 120x600

Didit: Warga tidak anti-investasi. Mereka berterima kasih karena pabrik buka lapangan kerja

Cakrawalanational.newsToboali Bangkaselatan, setelah lebih dari satu dekade terhambat, akses jalan utama warga Desa Nangka menuju kebun akhirnya dibuka kembali. PT Bukit Palma Prima menyetujui pembukaan jalan sepanjang 600 meter itu usai mediasi DPRD Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Jumat (12/6/2026).

Pasalnya, jalan tanah itu ditutup sepihak sejak perusahaan membangun pabrik kelapa sawit. Padahal jalur tersebut sudah dipakai warga sejak sebelum pabrik berdiri. Akibatnya, sekitar 200 petani Desa Nangka, Kecamatan Air Gegas, Bangka Selatan (Basel), harus memutar lewat jalur hutan sejauh 3 kilometer untuk angkut hasil kebun.

“Saya 10 tahun bawa sawit muter lewat hutan. Kalau hujan, becek. Motor sering amblas,” kata Ramli, 47, petani Desa Nangka yang ikut dalam mediasi.

Keluhan warga masuk ke DPRD Babel awal Juni. Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya langsung turun bersama anggota DPRD Rina Tarol, Musani, dan Warkamni. Mereka ditemani Sekda Bangka Selatan menemui manajemen PT BPP di lokasi pabrik.

“Warga tidak anti-investasi. Mereka berterima kasih karena pabrik buka lapangan kerja. Tapi tolong, jalan 600 meter ini nadi ekonomi mereka. Jangan ditutup,” kata Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Didit Srigusjaya usai pertemuan.

Menurut Didit, warga hanya minta akses dibuka, bukan ganti rugi. “Mereka sadar pabrik ini bawa manfaat. Tapi kalau kebun nggak bisa diakses, warga juga susah,” ujarnya.

Sementara, manajemen PT BPP yang hadir dalam mediasi mengakui ada miskomunikasi. Penutupan awalnya alasan keamanan aset pabrik. Setelah dialog, perusahaan setuju buka akses tanpa syarat.

“Alhamdulillah, tuntutan masyarakat dikabulkan. Hari ini juga langsung dibuka,” ucap Didit, seraya warga yang ikut mediasi langsung bersorak.

Pantauan di lapangan, alat berat PT BPP Jumat sore sudah menyingkirkan portal dan timbunan tanah yang menutup jalan. Petani langsung bisa melintas dengan motor.

Selama jalan ditutup, biaya angkut petani naik 3 kali lipat. Jika lewat jalan lama, ongkos ojek sawit Rp15 ribu per 100 kg. Lewat hutan, bisa Rp50 ribu karena jarak dan risiko.

“Kalau dihitung 200 petani, 10 tahun, rugi miliaran,” kata Warkamni, anggota DPRD Babel dapil Bangka Selatan. “Makanya ini bukan soal 600 meter, tapi soal perut.”

Di tempat yang sama Kepala Desa Nangka, yang enggan disebut nama, membenarkan warganya trauma. “Dulu pernah ada yang jatuh dari motor gara-gara jalan hutan licin. Sawitnya tumpah semua.”

Terlepas dari persoalan itu, DPRD Babel minta ada jaminan tertulis dari PT BPP agar kasus tak berulang. Didit menyebut akan dituangkan dalam berita acara mediasi yang ditandatangani perusahaan, warga, dan Pemkab Bangka Selatan.

Sekda Basel menyatakan Pemkab akan mengawasi. “Ini pelajaran. Investasi harus jalan, tapi hak warga juga jangan diabaikan,” katanya.

Dengan dibukanya jalan, aktivitas kebun warga kini normal. Ramli dan petani lain berencana gotong royong meratakan jalan pekan depan. “Biar mobil bisa masuk. Udah 10 tahun kami nggak panen maksimal,” ujarnya.

(HR75)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!