telkomsel

Harga Pertamax Naik ke Rp16.250, Menteri ESDM: Ikut Pasar, Subsidi Tak Naik

Dirut Pertamina Sebut Geopolitik Global, DPR Khawatir Kelas Menengah Tertekan

banner 120x600

Cakrawalanational.newsJakarta, Harga Pertamax resmi melambung. PT Pertamina menaikkan harga BBM RON 92 itu dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Kenaikan serupa terjadi pada Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Menurut Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan kenaikan itu mengikuti mekanisme pasar. “Harga yang nonsubsidi itu menyesuaikan harga pasar. Penghitungannya dilakukan secara bijak oleh pelaku usaha, baik Pertamina maupun badan usaha lain,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jum’at (12/6/2026).

Meski Pertamax naik, Bahlil memastikan Pertalite dan Biosolar tidak ikut terkerek. Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi untuk menjaga daya beli. “Kelompok masyarakat pengguna BBM bersubsidi harus tetap jadi prioritas perlindungan pemerintah di tengah gejolak harga energi global,” ujarnya.

Soal kemungkinan insentif untuk peredam dampak, Bahlil mengaku belum ada keputusan. “Masih melakukan kajian. Kita lakukan semua alternatif, yang penting jaga saudara kita yang ekonomi ke bawah,” paparnya.

Sementara, Direktur Utama (Dirut) Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyebut penyesuaian harga sudah mempertimbangkan harga minyak dunia dan dinamika geopolitik. Ia mengklaim kenaikan tak hanya dilakukan Pertamina. “Badan usaha swasta yang jual BBM nonsubsidi juga ikut menyesuaikan,” ungkap Simon lewat akun Instagram resmi Pertamina.

Ia menegaskan Pertamina tetap berkomitmen menjaga pasokan energi ke seluruh wilayah. “Di tengah tantangan global, dengan dukungan pemerintah kami jaga ketersediaan energi bagi masyarakat,” terangnya.

Kendati demikian, kenaikan Pertamax memicu kekhawatiran di Senayan. Anggota Komisi VI DPR Budi S Kanang menilai kelas menengah paling terdampak karena tak dapat subsidi maupun operasi pasar.

“Kelas menengah ini pasti berdampak. Kalau kelas menengah ke bawah masih ada subsidi, operasi pasar. Kelas menengah tidak mungkin mendapatkannya,” ucap politikus PDIP itu.

Menurut Budi, tekanan biaya hidup yang naik tanpa diimbangi kenaikan pendapatan tentu berisiko menurunkan kemampuan ekonomi kelas menengah.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!