Baru.png

Dukung Riset Ikan Endemik, PT TIMAH Dorong Konservasi Betta burdigala di Bangka

banner 120x600

Cakrawalanational.newsPangkalpinang, PT TIMAH Tbk terus mendorong pelestarian keanekaragaman hayati melalui dukungan riset ikan endemik Bangka Belitung (Babel). Salah satu fokusnya adalah penelitian domestikasi dan pemijahan Betta burdigala, spesies ikan cupang endemik Pulau Bangka yang populasinya terancam punah.

Dukungan diberikan kepada tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang. Riset berjudul “Pengungkapan Biodiversitas Whole Genome dan Pengembangan Konservasi Ex-situ Sumber Daya Ikan Endemik di Provinsi Kepulauan Babel untuk Pelestarian Berkelanjutan” ini telah memasuki tahun keempat. Penelitian juga berkolaborasi dengan BRIN dan Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung atau The Tanggokers.

Ketua Peneliti sekaligus Dekan Fakultas Pertanian UM Palembang, Dr. Helmizuryani, S.Pi, M.Si mengatakan dukungan PT TIMAH sangat membantu kelancaran riset lapangan.

“Alhamdulillah, PT TIMAH memberikan dukungan dalam penelitian ini sehingga penelitian dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya di Pangkalpinang.

Selama empat tahun, tim peneliti telah menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi Q1 hingga Q4, serta menerbitkan dua buku tentang ikan endemik Bangka.

Saat ini fokus penelitian adalah domestikasi dan pemijahan Betta burdigala dengan stimulasi hormon. Tujuannya agar ikan hasil budidaya bisa digunakan untuk program restocking di habitat alami.

“Kalau penelitian ini berhasil, hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan restocking sehingga populasi ikan endemik ini bisa kembali meningkat,” kata Helmizuryani.

Berdasarkan data peneliti, dari sekitar 86 spesies ikan cupang Betta di dunia, 49 spesies ada di Indonesia. Bangka Belitung memiliki sejumlah spesies endemik dengan nilai ekologis dan ekonomi tinggi.

Namun spesies tersebut terancam akibat perubahan habitat, alih fungsi lahan jadi perkebunan, dan pencemaran lingkungan. “Kalau upaya konservasi tidak dilakukan mulai sekarang, tinggal menunggu waktu saja ikan-ikan endemik ini akan punah,” tegas Helmizuryani.

Betta burdigala sendiri hanya ditemukan di Pulau Bangka dan disebut sebagai leluhur beberapa jenis ikan cupang lain.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Boby Muslimin, menyebut Betta burdigala telah masuk kategori Critically Endangered atau terancam punah dalam IUCN Red List.

“Ikan ini sudah berada pada kategori kritis sehingga diperlukan upaya konservasi bersama, baik melalui perlindungan habitat, konservasi in-situ maupun ex-situ, serta pengembangan budidaya,” jelas Boby.

Ia menilai hasil domestikasi berpotensi mendukung program reklamasi PT TIMAH. Pelepasliaran bisa dilakukan di kawasan bekas tambang yang telah direhabilitasi, terutama di tepian kolong dengan karakter rawa gambut dangkal yang sesuai habitat alami ikan tersebut.

“Kami mengapresiasi PT TIMAH sudah concern terhadap isu lingkungan khususnya ikan endemik. Karena ikan ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan budaya dan dibutuhkan dalam ekosistem lingkungan,” tutup Boby.

Sebelumnya, PT TIMAH juga berkolaborasi dengan The Tanggokers dalam penelitian dan penerbitan buku Biodiversitas Ikan Tempalak (Wild Betta) Endemik Pulau Bangka.

(HR75)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *