Dato’: Saya akan gelar dialog akbar
Cakrawalanational.news–Pangkalpinang, Tokoh pejuang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Dato’ Agus Adaw mendesak pemerintah pusat dan daerah bersikap tegas soal ekspor mineral ikutan timah seperti ilmenit, zirkon, dan monasit. Hal itu disampaikan menanggapi pemberitaan ekspor ilmenit oleh PT Putraprima Mineral Mandiri (PMM) yang disebut sudah sesuai prosedur.
“Saya tidak akan menjelaskan teknis, tidak membela PT PMM ataupun pemerintah. Tapi pertanyaannya: mineral ikutan timah ini boleh diekspor atau tidak? Pemerintah harus tegas,” kata Dato’ Agus Adaw saat diwawancara wartawan, Kamis (4/6/2026) di rumahnya, Bukitmerapin Pangkalpinang Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Menurut dia, ada tiga hal yang harus dijawab pemerintah. Pertama, kejelasan boleh-tidaknya mineral ikutan diekspor. Kedua, jika boleh, apa kriteria ekspornya. “Harus ada aturan, kriteria fisik. Berapa persen pengolahannya?, ujarnya.
Ketiga, mineral ikutan mana yang dilarang ekspor. “Ini harus dituangkan. Disampaikan ke pengolah mineral ikutan. Boleh atau tidak”, tandasnya.
Kendati demikian, Dato’ mengkritik penjelasan yang beredar saat ini. “Yang saya baca hanya penjelasan teknis. Jumlah kontainer, ada tumpangan, ada milik orang lain. Ini tidak jelas. Negara harus hadir”, ungkapnya.
Ia menyebut Presiden Prabowo luar biasa, sehingga pemerintah pusat dan daerah harus turun tangan. “Saya lihat tidak ada pernyataan dari pemerintah pusat, daerah, atau legislatif. Jangan main-main. Nanti berita seperti ini hilang”, tukasnya.
Ia juga menyinggung Bea Cukai yang menyebut persetujuan ekspor barang (PEB) sudah layak. “Dari mana Bea Cukai mengatakan ini? Apalagi orang mengatakan ada monasit. Monasit itu material mineral ikutan mengandung bahan terlarang. Bisa untuk atom atau nuklir,” ujarnya.
Padahal, kata dia, rencana PLTN atau Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Pulau Gelasa gagal karena ditolak masyarakat Bangka Belitung. “Karena mengandung radioaktif. Sekarang barang ini diekspor. Negara harus hadir, harus jelas”, jelas Dato’.
Oleh karenanya Ia menegaskan, ini menyangkut sumber daya alam Bangka Belitung. “Harus ada kejelasan. Jangan diam. Jangan pihak A, B, C yang berkomentar. Pemimpin harus ngomong”, paparnya.
Ia mengaku belum pernah melihat tambang khusus mineral ikutan. “Yang ada mineral ikutan dari proses penambangan timah. Dari tailing baru diproses, ada zirkon, ilmenit, monasit”, terangnya.
Karena itu, ia mempertanyakan legalitas. “Apakah perusahaan ini punya kerja sama dengan PT Timah? Karena ambil raw material (material ikutan) dari hasil tambang timah. Kalau dapat dari tambang ilegal, tambang inkonvensional, itu barang ilegal”, ujarnya.
Jika ada kerja sama dengan PT Timah, kata dia, PT Timah harus bertanggung jawab. “Jangan tidak ada yang berkomentar”, celetuk Dato’.
Soal aturan, Dato’ menyebut semua harus berdasar undang-undang. “Ekspor timah ada undang-undangnya. Setahu saya, jangankan mineral ikutan, ekspor pasir kuarsa saja tidak diizinkan. Yang ada perdagangan antar-pulau. Pasir dilarang, apalagi mineral ikutan yang harganya 10 kali lipat biji timah”, bebernya.
Ia menyebut Insinyur Aldan Jalil, mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Bangka Belitung, sebagai ahli mineral ikutan.
Sebagai kesimpulan, Datuk Agus meminta negara hadir. “Saya akan kontak kawan-kawan di daerah dan Jakarta. Kami akan gelar dialog terbuka. Tidak bisa diam. Timah bermasalah, sawit bermasalah, nanti semua bermasalah”, ucap Dato’.
Kepada PT PMM, ia mengaku salut atas keberanian berinvestasi. “Tapi buat aturan. Jangan merasa benar. Saya lihat klarifikasinya hanya teknis, tonase, kontainer. Tidak begitu. Boleh tidak diekspor? Kalau boleh, tunjukkan peraturannya”, tegasnya.
Ia berencana lapor Presiden. “Ini menyangkut kekayaan negara di Babel. Hari ini sawit turun, kacau balau. Saya akan gelar dialog akbar, panggil ahli peraturan dan ahli teknik mineral ikutan, kita urai biar jelas”, imbuhnya.
Datuk Agus juga menyentil Bea Cukai. “Ngomong jangan ngelantur dulu. Negara kita sedih. Bayangkan, BGN pun sekarang ditangkap, makan pun dikorupsi. Ngeri. Makan untuk anak-anak generasi penerus bangsa, kata Pak Prabowo”, pungkasnya.
(HR75)











Tinggalkan Balasan