Cakrawalanational.news-Prabumulih, Informasi mengenai dugaan ledakan alat operasi di RS AR Bunda Prabumulih yang sempat beredar di tengah masyarakat akhirnya mendapat klarifikasi resmi dari pihak rumah sakit.
Sebelumnya, beredar informasi bahwa seorang pasien yang dijadwalkan menjalani tindakan operasi pada Jumat (12/6/2026) lalu terpaksa menunda operasi setelah alat yang digunakan di ruang operasi diduga mengalami ledakan dan kerusakan. Informasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan serta nasib pasien yang harus menunggu tindakan medis.
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun media dari sumber terpercaya, pasien tersebut telah dijadwalkan menjalani operasi pada Jumat lalu. Namun, menjelang pelaksanaan tindakan medis, operasi dibatalkan karena adanya gangguan pada peralatan yang akan digunakan.
“Pasien itu sudah dijadwalkan untuk operasi. Namun mendadak dibatalkan karena ada informasi alat operasi yang digunakan mengalami kerusakan. Akibatnya operasi tidak bisa dilaksanakan,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sumber tersebut mengaku mendapatkan informasi bahwa alat yang mengalami gangguan merupakan salah satu peralatan penting yang digunakan dalam tindakan operasi sehingga pihak rumah sakit memutuskan menunda operasi demi alasan keselamatan.
“Yang menjadi persoalan bukan hanya pembatalan operasinya, tetapi pasien dan keluarganya sempat belum mendapatkan kepastian kapan operasi itu akan kembali dilaksanakan,” katanya.
Menurut sumber itu, keluarga pasien sempat khawatir karena belum mengetahui secara pasti kapan tindakan operasi dapat dilakukan kembali.
“Informasi yang kami terima saat itu pasien diminta menunggu. Katanya alat yang mengalami kerusakan harus diperiksa terlebih dahulu. Karena itu keluarga berharap ada penjelasan resmi dari rumah sakit,” ungkapnya.
Rumah Sakit Bantah Ada Ledakan
Menanggapi informasi yang berkembang di masyarakat, Humas RS AR Bunda Prabumulih, Martini, memberikan klarifikasi resmi bahwa tidak pernah terjadi ledakan alat operasi sebagaimana yang diberitakan sebelumnya.
Martini menjelaskan bahwa insiden yang terjadi pada Jumat (12/6/2026) tersebut merupakan gangguan teknis berupa korsleting pada salah satu alat endoskopi yang digunakan di ruang operasi.
“Sehubungan dengan pemberitaan yang beredar mengenai adanya dugaan ledakan alat di ruang operasi pada hari Jumat lalu, kami menyampaikan bahwa benar pada hari tersebut terjadi gangguan teknis berupa korsleting pada salah satu alat endoskopi yang digunakan di ruang operasi,” jelas Martini.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa informasi mengenai adanya ledakan alat merupakan informasi yang tidak benar.
“Informasi yang menyebutkan adanya ledakan alat adalah tidak benar. Kejadian yang terjadi adalah korsleting atau gangguan kelistrikan pada alat, yang segera teridentifikasi dan ditangani oleh petugas sesuai prosedur yang berlaku,” tegasnya.
Menurut Martini, begitu gangguan teknis terdeteksi, pihak rumah sakit langsung mengambil langkah cepat sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.
“Rumah sakit telah melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan insiden peralatan medis, termasuk penghentian penggunaan alat yang mengalami gangguan, pengamanan area, pemeriksaan teknis, serta koordinasi dengan unit terkait untuk memastikan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan,” katanya.
Keselamatan Pasien Jadi Prioritas
Martini menegaskan bahwa keputusan penundaan operasi dilakukan semata-mata untuk menjamin keselamatan pasien dan tenaga medis.
Menurutnya, rumah sakit tidak akan memaksakan penggunaan alat yang sedang mengalami gangguan sebelum dilakukan pemeriksaan menyeluruh dan dinyatakan aman untuk digunakan kembali.
“Keselamatan pasien merupakan prioritas utama rumah sakit. Karena itu setiap gangguan teknis pada peralatan medis harus ditangani sesuai prosedur untuk memastikan pelayanan tetap aman dan berkualitas,” ujarnya.
Terkait pasien yang sempat tertunda menjalani operasi, pihak rumah sakit memastikan telah melakukan langkah-langkah penyesuaian agar pasien tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.
“Terkait pasien yang telah dijadwalkan menjalani operasi, rumah sakit telah melakukan penyesuaian dan segera menjadwalkan kembali tindakan operasi dengan prioritas penanganan agar pasien tetap mendapatkan pelayanan medis yang optimal,” ungkap Martini.
Evaluasi Menyeluruh Peralatan Medis
Lebih lanjut, Martini mengatakan bahwa pihak rumah sakit secara berkala melakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap seluruh sarana penunjang pelayanan kesehatan, termasuk peralatan medis yang digunakan dalam tindakan operasi.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan setiap alat berfungsi dengan baik dan memenuhi standar keselamatan serta mutu pelayanan kesehatan.
“Rumah sakit selalu melakukan evaluasi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap peralatan yang digunakan untuk memastikan seluruh layanan dapat berjalan dengan aman dan sesuai standar mutu pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi kebenarannya dan selalu mengacu pada sumber resmi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk memperoleh informasi dari sumber resmi dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Rumah sakit berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang aman, profesional, dan transparan kepada seluruh pasien serta masyarakat,” pungkasnya.
Menunggu Kepastian Operasi
Terlepas dari klarifikasi tersebut, peristiwa ini menjadi perhatian publik karena menyangkut pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Masyarakat berharap kejadian serupa tidak terulang serta seluruh fasilitas medis yang digunakan dalam pelayanan rumah sakit senantiasa berada dalam kondisi prima.
Dengan adanya penjelasan resmi dari pihak rumah sakit, diketahui bahwa insiden yang terjadi bukanlah ledakan alat operasi, melainkan korsleting pada alat endoskopi yang digunakan di ruang operasi. Rumah sakit juga memastikan bahwa pasien yang sempat tertunda operasinya akan mendapatkan penanganan lanjutan dan prioritas pelayanan sesuai kebutuhan medisnya.
Sementara itu, masyarakat berharap komunikasi yang terbuka antara pihak rumah sakit dan keluarga pasien dapat terus dilakukan sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun keresahan di tengah publik terkait pelayanan kesehatan di Kota Prabumulih.
(Anz/CNN)











Tinggalkan Balasan