Baru.png

Setiap Kamu Adalah “Pemimpin”, Amanah yang Kelak Akan Dipertanggungjawabkan

Oleh: Hairul Anwar Al-Ja'fary

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Pangkalpinang, Kamis (13/8/2026), Di ujung zaman ini, manusia seperti sedang mabuk kekuasaan. Kursi kepemimpinan, baik di eksekutif maupun legislatif, menjadi rebutan.

Ada yang menempuhnya pelan-pelan, dari kepala daerah tingkat dua (Bupati/Walikota), lalu naik ke tingkat satu (Gubernur), dan tak puas sebelum duduk di kursi tertinggi negeri (Presiden). Ada pula yang datang secara instan, seolah jalan tol kekuasaan sudah dibentangkan.

Padahal, jika kita menengok ke belakang, ke masa para sahabat, justru pemandangan sebaliknya yang kita temui. Mereka saling menolak ketika ditawari jabatan. Bagi mereka, memimpin bukan kehormatan. Ia adalah beban berat yang kelak akan dihisab di hadapan Allah SWT.

Dahulu, hiduplah seorang cerdik pandai bernama Abu Nawas di zaman kekhalifahan. Suatu ketika, Khalifah hendak mengangkatnya sebagai (Qadhi) Hakim Agung untuk menggantikan ayahnya yang tengah sakit keras.

Khalifah cemas. Jika sang ayah wafat, siapa yang akan meneruskan keadilan dan kebijaksanaannya?

Kecemasan itu terbukti. Sang ayah berpulang. “Pucuk dicinta ulam pun tiba”. Kesempatan emas datang menghampiri Abu Nawas.

Maka diutuslah prajurit istana untuk menjemputnya. Namun betapa terkejutnya mereka. Abu Nawas yang dulu dikenal jenaka dan cerdas, kini tampak linglung. Bajunya kusut, ucapannya tak karuan. Ia “gila”.

Melihat itu, Khalifah pun membatalkan niatnya.

Apakah benar Abu Nawas gila karena ditinggal ayah? Tidak, Ia berpura-pura.

Karena semasa hidupnya, sang ayah pernah berpesan dengan suara bergetar, “Anakku, janganlah engkau menjadi pemimpin. Sebab di akhirat kelak, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap tindakannya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, ucap Ayahnya.

Ternyata, pesan itu Abu Nawas simpan dalam dada. Ia lebih memilih dianggap gila oleh manusia, daripada celaka di hadapan Tuhannya karena mengkhianati amanah.

Sikap Abu Nawas ternyata bukan satu-satunya. Para sahabat Rasulullah juga begitu.

Ketika Rasulullah SAW wafat, umat kebingungan siapa yang akan menggantikan. Nama Abu Bakar disebut. Tapi Abu Bakar justru menunjuk Umar. Umar menolak dan mengembalikan lagi kepada Abu Bakar. Mereka saling tolak-menolak amanah.

Bukan karena tidak mampu. Tapi karena mereka sadar, jabatan adalah ujian terberat.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan suatu jabatan kepada orang yang meminta untuk diangkat dan tidak pula kepada orang yang berharap-harap untuk diangkat”, (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau juga memperingatkan, “Apabila suatu pekerjaan diberikan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran”, (HR. Bukhari).

Bandingkan hari ini, banyak orang berlomba mengejar jabatan dengan dalih “panggilan rakyat”. Rakyat yang mana? Mungkin hanya segelintir yang terbius janji dan pencitraan, bukan suara mayoritas.

Akibatnya, jabatan jatuh ke tangan yang bukan ahlinya. Peraturan menjadi tumpang tindih. Ekonomi melemah. Pendidikan tertatih. Kesehatan dan budaya terabaikan.

Negeri menjadi corat-marut. Bukan karena kekurangan orang pintar, tapi karena amanah diletakkan di pundak yang salah.

Saudaraku, sadarilah. Jabatan bukanlah mahkota. Ia adalah rantai. Rantai yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Hakim Yang Maha Adil.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan:
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya”.

Maka, serahkanlah urusan kepada ahlinya. Kepada mereka yang berilmu, berakhlak, dan takut kepada Allah.

Karena kepemimpinan tidak selesai di dunia. Ia akan terus berlanjut hingga ke liang lahat, ke padang mahsyar, hingga ke timbangan amal.

Jangan tergesa ingin memimpin. Takutlah terlebih dahulu untuk memimpin.

(Cakrawalanational.news)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *