Baru.png

Cegah Kekerasan dan Perundungan, Muhidi Dorong Penguatan Sekolah Ramah Anak

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Padang, Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar) Muhidi mendorong penguatan penerapan sekolah ramah anak di seluruh satuan pendidikan. Menurutnya, sekolah tidak hanya dituntut memberikan pendidikan akademik, tetapi juga harus mampu menjamin keamanan, kenyamanan dan pemenuhan hak setiap anak.

Hal itu disampaikan Muhidi saat menghadiri Pelatihan Konvensi Hak Anak dalam rangka mewujudkan sekolah ramah anak melalui pemenuhan dan perlindungan hak anak di Padang, Rabu (9/9/2026).

Muhidi mengatakan, menciptakan sekolah ramah anak merupakan tanggung jawab bersama. Tidak hanya pemerintah dan pihak sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan orang tua, masyarakat serta lembaga legislatif.

Menurutnya, DPRD memiliki peran strategis dalam memastikan upaya perlindungan anak berjalan melalui fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan.

“Dengan tiga fungsi ini, DPRD bisa membantu memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan. Kalau memang dibutuhkan aturan baru atau penyempurnaan terhadap aturan yang sudah ada, tentu akan kita tindaklanjuti sesuai masukan yang ada,” ujar Muhidi.

Ia menilai anak merupakan investasi paling berharga bagi masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak anak berada dalam lingkungan keluarga dan sekolah.

Muhidi menegaskan, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan mencegah kekerasan dan perundungan. Anak juga harus diberikan ruang untuk mengenali potensi, mengembangkan bakat dan membangun kepercayaan diri.

“Kita jangan hanya berpikir bagaimana melindungi anak, tetapi juga bagaimana menumbuhkan mereka sehingga menjadi sumber daya manusia yang unggul,” katanya.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan target Indonesia Emas 2045. Menurutnya, keberhasilan mewujudkan cita-cita tersebut sangat bergantung pada kualitas generasi yang dipersiapkan sejak sekarang.

Karena itu, pendidikan anak harus berjalan seimbang antara kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter. Anak perlu dibekali nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, serta kemampuan menghargai orang lain.

Muhidi juga menekankan pentingnya pendidikan agama sebagai fondasi dalam membentuk kepribadian anak. Penanaman iman dan tauhid sejak dini, menurutnya, akan membantu anak memiliki pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan.

“Kalau iman dan tauhidnya kuat, insyaallah cara berpikirnya akan benar. Ketika cara berpikirnya benar, tindakan yang dilakukan juga akan mengarah kepada hal yang benar,” tuturnya.

Selain karakter dan keimanan, Muhidi mendorong peningkatan budaya literasi di kalangan pelajar. Ia mengatakan kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak dini agar anak memiliki wawasan luas dan mampu mengikuti perkembangan zaman.

“Anak-anak harus kita dorong untuk suka membaca. Ilmu akan menjadi bekal mereka untuk sukses dan menghadapi masa depan,” katanya.

Ia berharap sekolah ramah anak tidak berhenti sebagai program atau predikat administratif. Lebih dari itu, konsep tersebut harus benar-benar dirasakan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman. Biarkan anak-anak berkembang, mengenali potensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat,” ujar Muhidi.

Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Sumbar Herlin Srihendini mengatakan pelatihan Konvensi Hak Anak menjadi bagian penting dalam meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan mengenai pemenuhan dan perlindungan hak anak.

Menurut Herlin, sekolah merupakan lingkungan strategis dalam perlindungan anak karena sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam proses pendidikan.

Ia mengatakan persoalan seperti perundungan, kekerasan dan berbagai bentuk tekanan terhadap anak harus dicegah secara bersama-sama.

“Sekolah ramah anak harus kita wujudkan secara bersama-sama. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah,” katanya.

Herlin menambahkan, keberhasilan sekolah ramah anak membutuhkan sinergi antara satuan pendidikan, keluarga, pemerintah dan masyarakat. Masing-masing pihak memiliki peran dalam memastikan anak memperoleh haknya sekaligus terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.

Ia berharap penguatan sekolah ramah anak dapat menjadi investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi Sumbar yang berkualitas.

“Tujuan kita adalah menyelamatkan generasi yang akan datang, karena merekalah yang nantinya menjadi penerus kita,” tuturnya.

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3AP2KB Sumbar Karyono menambahkan, pelatihan tersebut dilaksanakan karena masih ditemukan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah.

“Kami masih menemukan kasus-kasus yang terjadi di sekolah. Ini menunjukkan bahwa penerapan sekolah ramah anak masih perlu diperkuat,” katanya.

Melalui pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai hak-hak anak, upaya pencegahan kekerasan serta langkah menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Karyono berharap peserta tidak hanya memahami materi yang diberikan, tetapi juga mampu menerapkannya di sekolah masing-masing.

“Harapan kami, peserta semakin memahami kondisi anak saat ini dan mampu mengenali persoalan yang mereka hadapi. Dengan begitu, sekolah bisa memberikan respons yang tepat dan menciptakan lingkungan yang benar-benar mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Dengan penguatan tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat bagi anak memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang membuat mereka merasa aman, dihargai, didengar dan memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.

(Ril/CNN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *