Baru.png

UBB Gelar Seminar LTJ, DPR: Indonesia Jangan Hanya Jadi Penjual Bahan Mentah

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Merawang, Universitas Bangka Belitung (UBB) menggelar Seminar Nasional untuk membahas potensi, regulasi, dan hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia. Forum di Balai Utama De Universitaria UBB Balunijuk Merawang Kabupaten Bangka Babel, Kamis (23/7/2026), mempertemukan akademisi, pemerintah, legislatif, dan industri guna memperkuat tata kelola mineral strategis.

Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengatakan Indonesia masih berhenti di tahap ekstraksi bahan mentah seperti monasit, xenotime, dan ilmenit. Padahal logam tanah jarang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.

“Selama ini kita baru berhenti kepada ekstraktifnya. Yang belum adalah pemrosesan lebih lanjut. Kita tidak ingin berhenti hanya sebagai penyedia bahan baku. Kita ingin memiliki teknologi, mengelola sendiri, dan menghasilkan produk di Indonesia,” kata Bambang.

Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah penguasaan teknologi pengolahan lanjutan yang masih dikuasai negara lain, termasuk Tiongkok. Karena itu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri.

Bambang juga menyoroti pentingnya pemetaan cadangan yang lebih akurat. Ia menyebut Bangka Belitung memiliki potensi logam tanah jarang yang cukup besar, namun belum semua memiliki nilai ekonomis.

“Kalau dari peta yang ada, kita memiliki cadangan logam tanah jarang yang cukup banyak. Tetapi perlu dibuat pemetaan lebih detail, karena barangnya banyak belum tentu semuanya memiliki tingkat ekonomis,” ujarnya.

Di Bangka Belitung, logam tanah jarang terkandung dalam mineral ikutan pertambangan timah seperti monasit dan xenotime.

Rektor UBB Prof. Dr. Ibrahim, M.Si mengatakan seminar bertujuan memberikan masukan berbasis kajian agar pengelolaan sumber daya mineral dilakukan secara berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat daerah.

“Kami ingin mengundang semua pemangku kepentingan. Para narasumber yang hadir mewakili berbagai unsur untuk bersama-sama memberikan penguatan dalam rangka optimalisasi pengembangan logam tanah jarang,” kata Ibrahim.

Melalui seminar tersebut, UBB berharap menghasilkan rekomendasi bagi pemerintah dalam membangun industri mineral strategis yang meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

(HR75)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *