Cakrawalanational.news–Tanjungpandan, Memimpin sebuah Desa dengan jumlah penduduk hampir mencapai 8.000 jiwa bukanlah perkara mudah. Beragam persoalan, kepentingan, hingga dinamika masyarakat menjadi bagian dari perjalanan Pemerintahan Desa.
Hal tersebut disampaikan Kepala Desa Air Merbau, Katto, saat ditemui di Kantor Desa Air Merbau, Tanjungpandan Kabupaten Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (9/9/2026). Pernyataan itu disampaikannya dalam refleksi selama menjalankan amanah sebagai kepala desa hingga mendekati akhir masa jabatannya.
Katto mengakui, suka dan duka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab sebagai pemimpin di tingkat desa. Namun, menurutnya, berbagai persoalan yang muncul dapat dihadapi apabila dibangun semangat kebersamaan.
“Apapun alasannya, suka-duka itu ada. Namun dengan segala kekurangan dan kelemahan, kita selalu menjunjung tinggi kebersamaan. Rata-rata kendala itu bisa sama-sama kita atasi untuk mencarikan solusi yang terbaik,” ujarnya.
Menurut Katto, jumlah penduduk yang cukup besar membuat persoalan di tengah masyarakat juga beragam. Karena itu, diperlukan kemauan bersama untuk menentukan arah pembangunan desa.
“Sekarang pertanyaannya begini, kita di desa itu mau apa?” katanya.
Masalah Jangan Dihindari
Katto menegaskan, persoalan yang muncul di tengah masyarakat tidak seharusnya dihindari. Sebaliknya, setiap masalah harus dihadapi bersama dan dicari peluang untuk mendapatkan solusi terbaik.
“Selagi niat itu ada, masalah itu tetap ada. Masalah menurut saya harus kita atasi dan harus kita tarik peluang. Jangan kita hindari. Karena kalau kita hindari, akan kembali lagi dan ketemu dengan masalah yang lain,” tuturnya.
Ia menilai, keberadaan masalah dalam kehidupan bermasyarakat merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Yang membedakan adalah bagaimana pemerintah desa bersama masyarakat menyikapi dan menyelesaikannya.
Tekankan Pentingnya Kebersamaan
Lebih lanjut, Katto menekankan pentingnya menjaga kebersamaan di tengah masyarakat tanpa melihat latar belakang maupun asal-usul seseorang.
Menurutnya, kehidupan bermasyarakat harus dibangun dengan sikap saling menghargai serta kemampuan untuk hidup berdampingan.
“Jadi prinsip kita bersama di desa itu adalah kebersamaan. Kita jangan memandang siapa mereka, dari mana mereka,” ujarnya.
Prinsip tersebut, kata dia, menjadi salah satu hal penting dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat agar tetap harmonis di tengah beragam latar belakang.
Mengaku Sebagai Perantau
Dalam kesempatan tersebut, Katto juga menceritakan perjalanan pribadinya sebagai seorang perantau. Ia mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat setempat karena selama berada di daerah tersebut dirinya mendapatkan penerimaan yang baik.
“Saya adalah orang perantau. Dari sana saya membawa apa? Saudara saya tinggal. Kalau harta ini, mau banyak harta, saya tidak merantau. Tapi bukan berarti kami tidak mensyukuri,” ungkapnya.
Ia mengatakan, orang tua dan saudara-saudaranya masih berada di daerah asal. Sementara dirinya memilih merantau dan menjalani kehidupan sekaligus mengabdikan diri di daerah yang baru.
Meski demikian, Katto mengaku bersyukur karena masyarakat di tempatnya mengabdi telah menerimanya dengan baik.
“Saya diterima dengan baik, saya diangkat martabat saya dengan baik,” katanya.
Menurutnya, penerimaan tersebut justru menumbuhkan beban moral untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat yang telah menerimanya.
Ia memandang kebaikan yang diterimanya selama ini bukan sebagai utang yang dapat dibayar lunas, melainkan menjadi dorongan untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Secara pribadi saya itu bayar utang. Dan utang ini tidak akan lunas, apapun yang saya perbuat, sebaik apapun,” ujarnya.
Ia menegaskan, prinsip tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab pribadinya selama menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
“Itu prinsip saya. Terlepas dari terserah orang menilai, terserah orang menerima. Tapi itulah yang kami rasakan,” pungkasnya.
(CNN/Sn)










Tinggalkan Balasan