Baru.png

3 Kecamatan di Pangkalpinang Rawan Karhutla, Agustus Jadi Puncaknya

banner 120x600

Cakrawalanational.newsPangkalpinang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang-Babel memetakan 3 kecamatan dengan potensi tinggi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Wilayah itu adalah Bukit Intan, Gabek, dan Gerunggang.

Pemetaan dilakukan di tengah kemarau panjang yang memicu kekeringan dan kenaikan suhu. Kepala BPBD Kota Pangkalpinang, Dedi Revandi, menyebut kondisi ini diperparah banyaknya vegetasi dan semak belukar yang mengering.

“Musim kemarau, suhu tinggi, vegetasi dan semak yang kering, kemudian angin yang mempercepat perjalanan api, menjadi faktor alam yang memicu terjadinya kebakaran,” kata Dedi dalam pemaparan penanggulangan karhutla dan kekeringan, Senin (14/9/2026) di Kantor Walikota Pangkalpinang.

Selain faktor alam, BPBD mencatat aktivitas manusia masih menjadi pemicu utama karhutla. Modusnya mulai dari pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah, hingga membuang puntung rokok sembarangan.

Di 3 kecamatan rawan tersebut, BPBD juga mencatat warga mulai mengalami kekurangan air bersih.

1. Bukit Intan: Kelurahan Air Itam, Semabung, Sinar Bulan. Banyak lahan kosong tak termanfaatkan.
2. Gabek: Kelurahan Selindung, Selindung Baru, Jerambah Gantung. Termasuk kawasan perbatasan kota.
3. Gerunggang: Kelurahan Air Kepala Tujuh dan Tua Tunu.

BPBD juga menyorot kawasan Jalan Kerabut-Sinar Bulan dan wilayah perbatasan Kota Pangkalpinang – Kabupaten Bangka.

Data Satpol PP dan Damkar menunjukkan karhutla di Pangkalpinang naik tajam pada Agustus 2026. Pada Juli tercatat 22 kejadian. Agustus menjadi bulan dengan kasus tertinggi.

Memasuki September hingga 13 September 2026, jumlah kebakaran justru menurun. Namun masalah bergeser ke kekeringan.

“Kalau kebakaran meningkatnya di bulan Agustus. Kalau kekurangan air bersih ini mulai meningkat di September,” ujar Dedi.

Hingga 13 September, BPBD sudah melakukan suplai air bersih ke sekitar 20 lokasi.

Untuk antisipasi, BPBD bersama Satpol PP dan Damkar melakukan patroli pagi dan siang. Pemantauan juga dilakukan lewat deteksi dini hotspot bersama BMKG.

BPBD juga menyebar selebaran imbauan dan melibatkan RT, RW, kelurahan, hingga kecamatan untuk pengawasan.

“Pengawasan juga kami lakukan dengan melibatkan RT, RW, kelurahan dan kecamatan,” ujar Dedi.

Dalam penanganan, BPBD mengklaim menerapkan respons cepat bersama Damkar, TNI, dan Polri. Pemkot juga mengandalkan relawan di tingkat kelurahan.

Dedi mengimbau warga tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara bakar.

“Jangan bakar sampah di lahan kering, segera laporkan apabila ditemukan titik api. Karena api kecil hari ini bisa menjadi bencana besar untuk esok hari,” tegasnya.

(HR75)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *