Baru.png

Proyek Rp4 Miliar Tanggul Sungai Rangkui Jalan 6 Bulan, Warga Pangkalpinang Khawatir Katup Picu Genangan Baru

banner 120x600

Yudi: Satu lagi ini untuk BWS, jangan sampai proyek ini nanti akan menyengsarakan masyarakat

Cakrawalanational.newsPangkalpinang, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui SNVT PJSA BWS Wilayah Bangka Belitung (Babel) memulai pembangunan tanggul dan normalisasi Alur Sungai Rangkui Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran 2026. Proyek senilai Rp4 miliar itu ditargetkan rampung dalam 6 bulan.

Hal itu disampaikan Kepala Satker SNVT PJSA BWS Babel, Agus Saputra dalam acara sosialisasi di Kantor Kecamatan Tamansari, Pangkalpinang, Selasa (7/7/2026).

“Ya, tentukan ini apa namanya? Pekerjaan ini sisa waktu 6 bulan lagi, Pak ya, dari Juli sampai Desember. Jadi kami sangat mengharapkan partisipasi, dukungan masyarakat sehingga bisa diselesaikan tepat waktu,” ujarnya.

Menurutnya, pagu awal proyek pengendalian banjir Sungai Rangkui sebenarnya Rp12 miliar. Namun karena dinamika penganggaran, terjadi pemotongan. Pada Juni 2026 anggaran berhasil dipertahankan Rp5 miliar dan yang dikontrakkan Rp4 miliar.

“Jadi dari sisi penganggaran pun sulit sekali. Tahun ke depan pun kita belum tentu bisa mendapatkan. Nah, jadi mari kita manfaatkan anggaran yang tersedia ini,” katanya.

Ia menyebut pengendalian banjir Sungai Rangkui merupakan satu sistem sesuai master plan. Idealnya, seluruh tanggul dari pintu air sampai hilir ditinggikan secara tuntas. Selain itu perlu normalisasi, pengerukan, pembangunan kolam retensi di Teluk Bayur, dan pintu pasang surut.

Namun karena keterbatasan anggaran, pekerjaan dilakukan bertahap. “Termasuk Teluk Bayur itu sebenarnya juga bagian dari master plan besarnya untuk dibuat retensi, dan juga pintu pasang surut. Nah, itu cuma karena anggarannya sangat besar, sehingga nanti kami dengan Pak Walikota terus berusaha untuk memprogramkan ini ke Pak Menteri,” jelas Agus.

Disisi lain, dalam kesempatan itu tokoh masyarakat sekaligus Jurnalis Perkaranews, Ahmad Wahyudi menyoroti rencana pemasangan katup di kawasan Pelangi. Ia khawatir katup yang tertutup saat banjir rob justru akan memerangkap air dari permukiman.

“Jika memang katup itu berfungsi untuk menghilangkan banjir, ketika banjir rob itu air naik dari laut dan menutup pintu daripada air itu, bagaimana dari kampung ini mau keluar? Dan pintu itu otomatis enggak bisa terbuka, Pak. Dan akan menjadi genangan lebih banyak lagi di SD. Di situ ada dua SD, Pak,” kata Yudi panggilan akrabnya.

Ia mencontohkan, saat ini banjir di permukiman hanya semata kaki. Namun jika katup tertutup, ketinggian air bisa mencapai sepaha. “Tolong lihat di pintu air itu, Pak. Fungsikan kembali,” pintanya.

Yudi juga menyinggung penataan kawasan bantaran sungai. Ia menyebut telah membangun Teluk Atok, Kampung Rasa Taman Mandara, hingga Taman Layak Anak sebagai kawasan wisata. Ia meminta pemerintah menata bagian atas sungai agar berdampak pada ekonomi kreatif warga.

“Satu lagi ini untuk BWS, jangan sampai proyek ini nanti akan menyengsarakan masyarakat. Uang negara yang tadinya untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat, akhirnya dialihfungsikan menjadi sengsara,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan penegakan aturan di bantaran. Menurutnya, papan larangan membangun masih berdiri, tetapi pembangunan di sepanjang jalan terus berlangsung.

“Kalau memang mau ditata, jangan tata sungainya saja. Tata per atas-atasnya, Pak, bagaimana tempat ini menjadi ekonomi kreatif. Bagaimana tempat ini dari BWS kerjakan ini ada dampak sosial ekonominya pada masyarakat,” tegasnya.

Hingga sosialisasi berakhir, pihak SNVT PJSA BWS menyatakan akan menampung seluruh masukan warga untuk dikaji dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

(HR75)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *