Example 728x250.

Penghujung Ramadan Jadi Saksi, Aditya Group Salurkan 60 Santunan Warga Mentok Anak Yatim Piatu dan Duafa

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Bangka Barat, Di senja yang perlahan merunduk di penghujung Ramadan, Rabu (18/03/2026), Aditya Group kembali menegaskan jejaknya bukan semata sebagai entitas bisnis, melainkan sebagai denyut kepedulian sosial. Sebanyak 60 warga dari RT 02 dan RT 03 menerima santunan zakat mal yang dirangkai dengan buka puasa bersama, dalam sebuah kegiatan yang sederhana namun menyimpan makna yang jauh melampaui angka dan seremoni.

Kegiatan ini menjadi penegas identitas Aditya Group di tengah masyarakat bahwa keberadaan usaha bukan hanya untuk tumbuh secara ekonomi, tetapi juga untuk memberi arti bagi lingkungan sekitarnya. Di hadapan warga, CEO Aditya Group, Surveyadi, S.Tp, M.M., menyampaikan bahwa santunan ini adalah bagian dari komitmen yang terus dijaga, bukan sekadar rutinitas tahunan.

“Walaupun tidak banyak, kami berharap santunan ini bisa bermanfaat dan sedikit meringankan beban masyarakat,” ujar Aditya singkat, namun sarat makna.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa nilai utama dari sebuah usaha terletak pada sejauh mana ia mampu hadir dan dirasakan oleh masyarakat.

“Usaha bukan hanya soal berkembang, tetapi bagaimana ia bisa menjadi bagian dari kehidupan sosial. Ramadan mengingatkan kami bahwa rezeki adalah titipan. Di situlah kami ingin menjadi jembatan kecil bagi harapan,” ungkapnya.

Pernyataan itu bukan sekadar kata-kata. Ia menjelma menjadi realitas yang tampak di halaman sederhana tempat kegiatan berlangsung. Warga duduk berjejer, sebagian dengan pakaian lusuh yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan hidup. Di tangan mereka, kantong santunan digenggam erat bukan hanya sebagai bantuan, tetapi sebagai simbol bahwa mereka masih dilihat, masih dianggap ada.

Di antara wajah-wajah itu, tampak Siti Aminah (52), matanya berkaca-kaca saat menerima bantuan. Suaranya pelan, namun menggema kuat dalam suasana yang hening.

“Bukan hanya isinya yang berarti, tapi kami merasa diperhatikan. Di saat banyak orang sibuk dengan urusannya, masih ada yang peduli,” katanya.

Di sudut lain, Hasan (60) duduk bersila, sesekali menatap langit yang mulai berubah warna. Baginya, kehadiran Aditya Group bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pengingat bahwa kepedulian masih hidup.

“Setiap tahun mereka datang. Ini bukan hanya santunan, tapi bukti bahwa mereka punya hati. Kami merasa dihargai,” ujarnya.

Menjelang waktu berbuka, suasana semakin mengendap dalam keheningan yang hangat. Paket makanan tersusun rapi, menunggu azan magrib. Aroma hidangan sederhana bercampur dengan angin sore yang berembus pelan, membawa rasa damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di balik itu semua, terpampang nama “Aditya Group” sebuah identitas yang selama ini dikenal melalui berbagai lini usaha, mulai dari penjualan kendaraan, jasa rental, hingga penginapan. Namun pada momen itu, seluruh identitas bisnis tersebut seakan melebur menjadi satu makna yang lebih utuh yaitu hadir untuk manusia.

Momentum Ramadan yang hampir usai menjadi refleksi bersama. Waktu yang singkat itu menyisakan pertanyaan sunyi tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang masih bisa diberikan.

“Ramadan selalu terasa cepat berlalu. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa setiap tahunnya kita menjadi lebih baik,” tutur Surveyadi menutup sambutannya.

Di tengah tekanan ekonomi yang semakin terasa menjelang Idul Fitri, santunan ini menjadi lebih dari sekadar bantuan. Ia adalah penopang harapan, penguat rasa kemanusiaan, sekaligus cermin bahwa sebuah usaha dapat membangun citra bukan hanya dari keuntungan, tetapi dari kepedulian yang konsisten.

Langit Muntok pun akhirnya gelap. Namun di antara warga yang pulang dengan langkah pelan, ada cahaya lain yang tetap menyala. Cahaya tentang kebersamaan, tentang tangan yang saling menggenggam dan tentang keyakinan bahwa di tengah kesulitan, masih ada yang memilih untuk peduli.

Di sanalah, Aditya Group tidak hanya membangun usaha tetapi mereka membangun makna.

(Heriyanti, Belva Al Akhab & Satrio)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *