Baru.png

UINSU Berdampak di Desa Gajah Karo: Dari Edukasi Pilah Sampah Hingga Olah Limbah Jadi Produk Kreatif

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Karo, Kepedulian lingkungan tidak cukup hanya dengan imbauan buang sampah pada tempatnya. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) membuktikan, sampah bisa dikelola dan punya nilai guna.

Semangat itu diwujudkan melalui program Ekoteologi di Desa Gajah, Kabupaten Karo. Mahasiswa mengajak anak-anak sekolah dan masyarakat untuk mengubah paradigma, dari membuang sampah menjadi memilah, mengolah, dan memanfaatkannya kembali.

Kegiatan ini merupakan bagian dari KKN UINSU 2026 dengan tema “UINSU Berdampak: Penguatan Desa MESRA (Desa, Moderasi, Ekoteologi, dan Sejahtera untuk Pengentasan Kemiskinan Ekstrem dan Stunting).”

Rangkaian aksi dilakukan mulai dari edukasi pemilahan sampah, permainan edukatif, gotong royong, pembuatan tong sampah pilah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga kreasi tutup botol bekas menjadi gantungan kunci.

Belajar Pilah Sampah dengan Cara Menyenangkan

Edukasi diawali di Sekolah Dasar. Siswa dikenalkan perbedaan sampah organik dan anorganik dengan contoh sehari-hari. Agar tidak monoton, mahasiswa mengemas materi dengan permainan pemilahan sampah.

Siswa diajak mengelompokkan gambar-gambar sampah sesuai jenisnya. Cara ini membuat siswa aktif berdiskusi, berpikir kritis, dan memahami pentingnya membuang sampah sesuai kategorinya.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan gotong royong membersihkan lingkungan sekolah. Mahasiswa bersama siswa juga membuat tong sampah pilah dari wadah bekas yang diberi warna dan label. Fasilitas sederhana ini diharapkan membiasakan siswa memilah sampah sejak dini.

Dari Kompos Hingga Gantungan Kunci

Pengelolaan sampah tidak berhenti di pemilahan. Sampah organik diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan dan dapat mengurangi volume sampah.

Sementara untuk sampah anorganik, mahasiswa bersama warga mengkreasikan tutup botol bekas menjadi gantungan kunci yang bernilai guna. Hasil kreasi tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat Desa Gajah sebagai contoh bahwa barang bekas masih bisa dimanfaatkan dengan kreativitas.

Rangkaian kegiatan ini menegaskan bahwa persoalan sampah tidak selesai hanya dengan dibuang. Diperlukan kebiasaan baru: kenali jenisnya, pilah, kurangi, olah, dan manfaatkan kembali.

Melalui program Ekoteologi, mahasiswa KKN UINSU berharap kepedulian lingkungan menjadi budaya di Desa Gajah. Perubahan tidak harus dari hal besar, cukup dari kebiasaan kecil yang konsisten, seperti memilah sampah dan memanfaatkan kembali barang bekas.

Pada akhirnya, ekoteologi bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi tentang membangun tanggung jawab manusia terhadap lingkungan tempat ia hidup.

(M. Habil Syah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *