Cakrawalanational.news–Jakarta, Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terlemah Rp18.111 per dolar AS pada 30 Juli 2026. Meski begitu, analis menilai pelemahan lebih lanjut ke Rp18.500 belum tentu terjadi dalam waktu dekat.
Sepanjang pekan terakhir Juli, rupiah beberapa kali berada di level psikologis Rp18.100. Data RTI mencatat rupiah ditutup Rp18.100 pada 28 Juli, melemah ke Rp18.108 pada 29 Juli, dan menyentuh Rp18.111 pada 30 Juli.
Pada perdagangan Jumat 31/7, rupiah menguat 89 poin atau 0,49 persen ke Rp18.022 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih dapat bertahan di bawah Rp18.500 dalam jangka pendek.
“Jangka pendek lebih mungkin tidak akan ke Rp18.500,” kata Lukman kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).
Ia menyebut tekanan terhadap rupiah saat ini masih berasal dari faktor eksternal. Dua faktor utama adalah harga minyak dunia dan arah kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral AS, The Federal Reserve.
Namun menurutnya, tekanan terhadap dolar AS sedikit mereda. Harga minyak relatif stabil dan rilis data ekonomi AS terbaru kurang mendukung penguatan dolar.
“Faktor utama masih dari eksternal, harga minyak dunia dan prospek suku bunga The Fed. Namun kalau melihat perkembangan belakangan ini, minyak walaupun masih tinggi, namun cukup stabil dan data ekonomi AS yang kemarin dirilis sangat negatif bagi dolar AS,” ujarnya.
Berbeda dengan Lukman, Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menilai peluang rupiah melemah ke Rp18.500 masih terbuka. Kecepatan pelemahan akan ditentukan respons pemerintah terhadap isu ekonomi domestik dan perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Ariston menjelaskan, eskalasi konflik dapat mendorong harga energi dan inflasi global naik. Jika itu terjadi, The Fed berpotensi menahan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut akan memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
“Kecepatannya tergantung sejauh mana pemerintah menanggapi isu-isu program-program yang menyoroti pasar dan situasi perang Iran-AS yang dapat mendorong kenaikan suku bunga acuan AS,” kata Ariston.
(*)










Tinggalkan Balasan