Cakrawalanational.news-Pangkalpinang, Gelombang penolakan terhadap rencana aktivitas pertambangan di perairan Desa Batu Berigak, Kabupaten Bangka Tengah Kepulauan Bangka Belitung (Babel), terus bergulir. Penolakan yang dipelopori mahasiswa dan didominasi emak-emak dari keluarga nelayan setempat.
Aksi berlangsung di tengah pengawalan aparat, tampak Ketua DPRD Kepulauan Babel, Didit Srigusjaya hadir langsung menemui massa. Ia tampak berbaur, menyalami, dan memeluk sejumlah warga para nelayan. Beberapa warga terlihat terharu hingga menangis saat berdialog.
Pada intinya mereka menolak rencana beroperasinya Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT Timah Tbk di perairan mereka. Bagi warga pesisir, laut merupakan sumber mata pencaharian utama.
Menurut salah seorang emak-emak berinisial Yt (43), bahwa sebagian besar kepala keluarga di Desa Batu Berigak berprofesi sebagai nelayan. Kekhawatiran muncul terkait dampak lingkungan dan ekonomi.
Warga menilai aktivitas tambang laut berpotensi merusak terumbu karang, membuat keruh air laut, dan mengusir populasi ikan dari zona tangkap tradisional.
Kekhawatiran tersebut merujuk pada pengalaman kerusakan lingkungan di sejumlah titik pesisir lain yang pernah menjadi area pertambangan.
“Laut ini satu-satunya tempat kami menyambung hidup. Kalau laut diacak-acak tambang, suami kami mau cari makan di mana lagi?” kata salah satu emak-emak dalam aksi tersebut.
Yang jelas, warga meminta pemerintah daerah dan PT Timah Tbk untuk mengkaji ulang keberadaan IUP di perairan Batu Berigak. Mereka juga meminta perlindungan ruang hidup dan keberlanjutan sumber daya pesisir.
Dalam aksi tersebut, warga menyatakan akan terus mengawal perairan mereka dari aktivitas tambang demi keberlangsungan ekonomi dan generasi mendatang.
(Hairul Anwar)










Tinggalkan Balasan