Cakrawalanational.news–Pangkalpinang, Koordinator Aliansi Tambang Rakyat Bangka Belitung (ATR Babel), Batara mendesak PT TIMAH membayar timah milik warga yang disita Satgas namun tidak ada kepastian hukum. Ia juga meminta penghentian tindakan intimidasi Satgas kepada masyarakat penambang.
Pernyataan itu disampaikan Batara usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPRD Babel, Selasa (4/8/2026).
Ia menolak adanya tindakan arogan dan tekanan dari Satgas kepada warga. Menurutnya, jika timah ditahan tetapi pemiliknya tidak diproses hukum, maka timah tersebut harus dibayar.
“Kami dak mau lagi ada arogan Satgas. Ada tekanan Satgas kepada masyarakat. Kalau memang timah yang ditahan oleh Satgas tapi tidak ada kepastian hukum, orangnya dak dipenjara, kami minta tolong dibayar,” kata Batara.
Batara juga menyoroti istilah ‘penyelundupan’ yang kerap disematkan kepada warga. Ia menilai sebutan itu tidak tepat jika penangkapan terjadi di wilayah daratan Bangka.
“Jangan mudah bilang ini penyelundupan kalau masih di atas daratan Bangka. Kalau kecuali dia tertangkap di tengah laut bawa timah, atau tertangkap di perbatasan Malaysia, baru boleh dibilang penyelundupan,” ujarnya.
Ia menyebut saat ini pembeli timah di Bangka hanya MSP dan PT TIMAH. Karena itu, menurutnya, jika negara tidak ingin ada aktivitas penambangan, maka pabrik pengolahan harus ditutup!.
“Kalau memang masyarakat enggak bisa ngumpulkan timah, ya udah tutup pabriknya biar enggak ada yang beli lagi, biar berhenti masyarakat,” kata Koordinator ATR ini.
Terkait dugaan intimidasi, Batara mengaku belum bisa memastikan identitas Satgas. Namun ia menyebut Satgas yang dimaksud berkaitan dengan PT TIMAH, seperti Satgas Trisakti dan Satgas Pamop PT TIMAH.
Ia mencontohkan kasus timah milik warga bernama Jai yang disita sekitar 200 kilogram. Karena tidak ada proses hukum, aliansi meminta agar timah itu dibayar.
Batara juga mengkritik PT TIMAH terkait mitra kerjanya. Ia mencontohkan CV BPM yang disebut belum memiliki SPK dan SILO namun sudah mempekerjakan penambang.
“Kalau mau dibilang salah, ya dia lebih salah. Mitra PT TIMAH lebih salah lagi, Bang,” ucapnya.
Ia berharap pertemuan ini bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Jika tidak ada perubahan, Aliansi Tambang Rakyat mengancam akan menggelar unjuk rasa besar.
“Kalau pertemuan ini tidak merubah apapun, masyarakat masih susah, kupastikan kami akan melakukan unjuk rasa yang sangat besar, sangat ramai,” tegasnya.
Sembari Ia keberatan kalau selama ini uang rakyat bayar pajak kembali ke rakyat tetapi dalam bentuk teror.
“Kami dak mau uang yang kami keluarkan bayar pajak kembali kepada kami dalam bentuk teror, dalam bentuk intimidasi, dalam bentuk penindasan. Kami berharap semoga ke depan jadi lebih baik,” tutup Batara.
(HR75)










Tinggalkan Balasan