Example 728x250.

Jangan Absen Saat Buruh Terhimpit: Markus Himbaukan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat di May Day Bangka Barat

banner 120x600

Penulis: Belva Al Akhab

Cakrawalanational.news-Mentok, Bangkabarat, Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional 2026 yang kerap berujung seremoni, Bupati Bangka Barat, Markus, justru melontarkan pesan yang menohok bahwa pemerintah tidak boleh sekadar hadir secara simbolik saat buruh berjuang di lapangan.

Tentunya pemerintah akan selalu hadir untuk mendengar, menganalisis, serta mengimplementasikan hal-hal yang menjadi hak para buruh atau pekerja,” tegas Markus, Senin (4/5/2026), di Lapangan Parkir Timur Pemkab Bangka Barat.

Pernyataan itu bukan sekadar formalitas. Di daerah yang denyut ekonominya bertumpu pada kerja keras ribuan buruh, kalimat itu terdengar seperti janji sekaligus tantangan bagi pemerintah sendiri.

Di balik pidato yang terdengar normatif, Markus membuka fakta yang tidak bisa diabaikan.

Di Kabupaten Bangka Barat, sejak tahun 2024 terdata angka pekerja sebanyak 109.046 orang dari total 220.242 penduduk,” ungkapnya.

Angka itu bukan sekadar statistik dingin. Ia sebagai wajah-wajah pekerja dari pelabuhan, tambang, kebun, hingga sektor informal yang setiap hari bertaruh dengan ketidakpastian.

Mayoritas berada di usia produktif 20–44 tahun. Usia yang seharusnya menjadi masa paling kuat untuk tumbuh, namun sering kali justru paling rentan terhadap tekanan ekonomi.

Angka ini tentulah tidak kecil, sehingga harus diperhatikan secara serius, terutama hak dan keberlanjutan produktivitasnya,” lanjut Markus.

Pertanyaannya tentang perhatian itu sudah benar-benar terasa di lapangan?

Markus tidak sekadar berbicara tentang hari ini. Ia menarik garis panjang sejarah perjuangan buruh dunia.

Hari Buruh atau May Day yang diperingati setiap tanggal 1 Mei merupakan hari penting untuk mengenang sejarah sekaligus program dan harapan para buruh,” ujarnya.

Ia mengingatkan tragedi Haymarket di Amerika Serikat abad ke-19, simbol perlawanan buruh terhadap ketidakadilan hingga jejak awal peringatan di Indonesia sejak 1920.

Namun di Bangka Barat, sejarah itu terasa belum sepenuhnya selesai.
Karena bagi banyak pekerja, perjuangan bukan cerita masa lalu melainkan realitas hari ini.

Dalam bagian paling reflektif, Markus mencoba menggeser cara pandang terhadap buruh.

Buruh atau pekerja sebagai objek penting yang menjalankan kewajiban dan amanah untuk menghasilkan satu tujuan atas apa yang dikerjakan,” katanya.

Pernyataan ini menyiratkan satu hal: buruh bukan sekadar roda produksi, tetapi pusat dari seluruh sistem ekonomi.

Bupati Bangka Barat, Markus,S.H., bersama Pimpinan Forkompimda Bangka Barat pada kegiatan Hari Buruh Internasional 2026

Ia juga menegaskan bahwa May Day bukan hanya seremoni, tetapi ruang menyatukan suara.

Hari buruh dijadikan momentum untuk menyatukan pandangan serta berkumpul untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh sekaligus keinginan dan harapan untuk memperbaiki peningkatan kesejahteraan,” tambahnya.

Di hadapan pejabat daerah, Forkopimda, hingga pelaku UMKM, Markus membuka pidatonya dengan nada religius.

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat hadir pada peringatan Hari Buruh Internasional May Day Harmoni Tahun 2026.”

Namun di balik kalimat yang tenang, tersimpan pesan politik yang kuat tentang negara tidak boleh jauh dari rakyatnya.

Dengan mengusung visi “Berkeadilan, Makmur, Tangguh dan Bersahabat,” Markus menempatkan buruh sebagai pusat arah kebijakan bukan sekadar pelengkap narasi pembangunan.

Peringatan May Day di Bangka Barat tahun ini terasa berbeda.
Bukan karena kemeriahannya, tetapi karena pertanyaan yang ditinggalkan.

Apakah negara benar-benar hadir saat buruh menghadapi upah yang tak pasti, pekerjaan yang rapuh, dan masa depan yang belum jelas?

Menutup sambutannya, Markus menyampaikan harapan.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan berkat dan rahmat kepada kita semua,” tutupnya.

Namun di luar panggung, realitas berbicara lebih keras dari doa.

Di Bangka Barat, May Day 2026 bukan sekadar peringatan, melainkan pengingat bahwa kepemimpinan akan diuji bukan dari pidato, tetapi dari keberanian untuk benar-benar berdiri di sisi mereka yang bekerja.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *