Baru.png

15.605 Warga Tersentuh TJSL PT Timah di Semester I 2026

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Pangkalpinang, Sabtu (19/9/2026) PT Timah Tbk mencatat 15.605 masyarakat menjadi penerima manfaat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan hingga Semester I 2026. Program menyasar pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi, hingga sosial kemasyarakatan.

Cakupan TJSL tersebar di wilayah operasional perusahaan, meliputi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Riau, Kepulauan Riau (Kepri) dan Jakarta.

Pelaksanaannya terintegrasi dengan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat serta Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil. Di bidang pendidikan, perusahaan menjalankan Pemali Boarding School dan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika sebagai dukungan terhadap SDM.

Untuk lingkungan, PT Timah mengandalkan program Kolong Terintegrasi, penanaman mangrove, dan 1.000 Pohon untuk Negeri. Program ini diarahkan untuk pemulihan lingkungan sekaligus penguatan kesadaran ekosistem.

Di sektor kesehatan, terdapat Mobil Sehat atau Oto Sihat yang mendekatkan layanan ke masyarakat. Ada pula Program Kemunting untuk pencegahan stunting melalui edukasi dan pendampingan.

Sektor ekonomi difokuskan pada ketahanan pangan dan koperasi binaan. Masyarakat didorong mengembangkan potensi lokal untuk kemandirian berkelanjutan.

Melalui PUMK, perusahaan menyalurkan pembiayaan UMK bekerja sama dengan BRI sesuai ketentuan Kementerian BUMN. Selain itu dilakukan pelatihan, workshop, serta pameran dan promosi produk binaan.

Hingga Semester I, realisasi program unggulan PUMK mencapai 8 dari target 16 kegiatan atau 50 persen dari target tahunan.

PT Timah juga menyentuh pelestarian budaya lewat Program Adat Gebong Mamarong untuk menjaga nilai dan kearifan lokal. Di bidang papan, perusahaan menjalankan Rumah Tinggal Layak Huni untuk hunian yang lebih sehat.

Manfaat program dirasakan langsung warga. Maryati, warga Belitung penerima bantuan renovasi rumah, mengaku dapurnya sudah roboh dan khawatir tertimpa kayu saat hujan.

“Dapur sudah roboh, kalau hujan takut tertimpa kayu dan seng,” ungkap Maryati.

Ia menyebut kondisi rumah membahayakan keselamatan karena atap bocor hingga kasur basah. Untuk memperbaiki sendiri, ia tak punya biaya.

Di Kepulauan Riau, nelayan Kelurahan Sawang, Kundur Barat, Kabupaten Karimun juga merasakan dampaknya. Ketua Perkumpulan Nelayan Sawang, Jumari, mengatakan bantuan dimanfaatkan untuk membeli jaring.

“Alhamdulillah, bantuan dari PT TIMAH kami manfaatkan untuk membeli jaring bagi nelayan,” kata Jumari.

Menurutnya, jaring yang dibeli disesuaikan kebutuhan untuk menangkap ikan biang dan ikan lomek di tengah hasil tangkapan yang tidak menentu.

Sementara di pendidikan, siswi Pemali Boarding School, Ulfia Maharani, menilai program tersebut meringankan beban orang tua sekaligus membuka jalan menggapai cita-cita.

“Terima kasih PT TIMAH yang telah mendukung pendidikan saya,” ucapnya.

Ulfia menargetkan melanjutkan studi Psikologi di Universitas Pendidikan Indonesia dan berharap dukungan serupa berlanjut untuk pelajar lain.

(HR75)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *