Baru.png

BMKG: Indonesia Masuk El Nino Kuat, Puncak Kemarau Agustus 2026

banner 120x600

Faisal: Jadi, tidak hanya terkait dengan kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, tapi juga bencana-bencana

Cakrawalanational.newsJakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia saat ini telah memasuki kategori El Nino kuat.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyebut intensitas El Nino tahun ini diproyeksi lebih kuat dibanding 2023. Sejumlah pakar iklim bahkan memproyeksikan kenaikan suhu akibat El Nino bisa melampaui 2 derajat Celsius.

“Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat,” kata Faisal usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026) malam.

Kategori El Nino super sebelumnya terjadi pada 1997 dan 2015. Faisal memperkirakan intensitas tahun ini berpotensi melampaui dua peristiwa tersebut.

Ia menjelaskan El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah naik lebih dari 0,5 derajat Celsius.

“Jika sudah melewati batas itu, kita katakan sudah masuk dalam kondisi El Nino aktif. Nah, untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasinya,” kata Faisal dikutip dari laman http://bmkg.go.id.

BMKG memprediksi dampaknya berupa cuaca lebih panas, musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih lama di sebagian besar wilayah. Risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, serta gangguan sektor strategis diprediksi meningkat.

Untuk mitigasi, BMKG memprioritaskan pengisian waduk melalui teknologi modifikasi cuaca. Langkah serupa juga dilakukan untuk membasahi lahan rawan terbakar guna menekan risiko karhutla.

“Ada pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan sebagainya juga untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan lahan-lahan yang mudah terbakar. Tadi diperkuat banyak tentang modifikasi cuaca,” katanya.

Enam provinsi menjadi fokus utama mitigasi yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026 dengan cakupan 48,84 persen wilayah Indonesia. Kondisi itu berlanjut hingga September dengan cakupan 25,41 persen wilayah.

Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah saat musim hujan tiba akhir tahun.

“Jadi, tidak hanya terkait dengan kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, tapi juga bencana-bencana hidrometeorologi basah,” kata Faisal.

BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari. Jika tidak bisa dihindari, gunakan payung, topi, kacamata hitam, tabir surya, pakaian terang, dan alas kaki nyaman. Masyarakat juga diminta cukup cairan, perbanyak buah dan sayur, serta segera istirahat bila merasa pusing, lemas, atau haus berlebihan.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *