Example 728x250.

Melyadi Tidak Menunggu Kebakaran: Memadamkan Niat Sebelum Karhutla Menyala di Bangka Barat

banner 120x600

Penulis: Belva Al Akhab

Cakrawalanational.news-Mentok, Bangkabarat, Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Rambat Menduyung, Melyadi, menegaskan bahwa pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus menjadi prioritas utama di Bangka Barat, dengan menempatkan edukasi masyarakat sebagai fondasi utama perlindungan hutan.

“Yang paling penting itu pencegahan. Karena kalau sudah terjadi, itu artinya kita sudah terlambat satu langkah,” ujar Melyadi dalam wawancara, Rabu (22/04/2026).

Pernyataan itu menjadi penanda arah kepemimpinannya untuk menggeser pendekatan dari reaktif menjadi preventif dari pemadaman menjadi kesadaran.

Berdasarkan hasil koordinasi nasional melalui forum PIKOM yang diikuti bersama jajaran kepolisian dan kementerian kehutanan, seluruh pihak diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kemarau panjang yang diprediksi mencapai puncak pada Agustus 2026.

“Kita kemarin ikut PIKOM, diundang Kapolres Bangka Barat. Ada Wakapolri, kehutanan pusat, Kapolda, Kapolres, sampai ke kami di daerah. Semua bicara satu hal untuk antisipasi kemarau panjang,” katanya.

Meski sempat muncul istilah “El Niño Godzilla”, Melyadi menegaskan bahwa secara ilmiah fenomena yang dihadapi adalah El Niño biasa, namun tetap memiliki potensi dampak serius.

“Secara teori di Indonesia tidak ada itu El Niño Godzilla. Yang ada El Niño saja. Tapi intinya sama, kita harus siap,” ujarnya.

Saat ini, kondisi cuaca masih diwarnai hujan, namun hal tersebut tidak mengurangi kesiapsiagaan.

“Ini memang masih hujan, alhamdulillah. Tapi ini kan prediksi. Kadang bisa tepat, kadang tidak. Tapi biasanya mendekati benar itu ada,” tambahnya.

Di tengah berbagai strategi yang disiapkan, Melyadi menempatkan edukasi sebagai kunci utama dalam mencegah karhutla. Ia menilai bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan.

“Yang menentukan itu langkah preventif. Kalau masyarakat sudah paham, kita tidak perlu repot memadamkan,” katanya.

KPH Rambat Menduyung akan melakukan sosialisasi secara langsung hingga ke tingkat desa untuk memberikan pemahaman tentang bahaya pembakaran lahan.

“Kami akan turun langsung. Sosialisasi ke kecamatan, ke desa-desa. Kita sampaikan, jangan membuka lahan dengan cara membakar, apalagi di kawasan hutan,” ujarnya.

Menurutnya, sebagian besar kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia.

“Kalau kita jujur, kebakaran itu sebagian besar karena manusia. Mungkin 90 persen. Alam itu kecil sekali perannya, paling satu persen lebih kurang,” tegasnya.

Melyadi juga mengakui bahwa praktik membuka lahan dengan cara membakar masih menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat, yang dikenal sebagai “mandok”.

“Kalau dalam budaya kita, ada yang namanya ‘mandok’. Itu memang ada,” katanya.

Namun ia menekankan pentingnya pendekatan yang tidak konfrontatif, melainkan edukatif.

“Kita tidak bisa langsung menghapus budaya. Tapi kita bisa mengubah cara. Membuka lahan boleh, tapi jangan dengan membakar,” ujarnya.

Pendekatan ini menunjukkan peran Melyadi sebagai penghubung antara tradisi lokal dan kebutuhan perlindungan lingkungan.

Dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla, KPH Rambat Menduyung juga memperkuat kerja sama lintas sektor, termasuk dengan kepolisian, pemerintah daerah dan perusahaan swasta.

“Kami sudah siap bekerja sama dengan Kapolres, dengan pemerintah daerah, dengan dinas lingkungan hidup, BPBD, semua stakeholder. Kita tidak bisa kerja sendiri untuk urusan hutan ini,” katanya.

Jika kebakaran terjadi, pemadaman akan dilakukan secara bersama-sama dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

“Kalau sudah terjadi, ya kita padamkan bersama-sama, sesuai kemampuan kita, sesuai alat yang ada,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan perusahaan yang memiliki peralatan pemadam kebakaran.

“Kalau dekat dengan perusahaan yang punya alat, kita akan koordinasi. Kita gunakan alat mereka juga untuk membantu pemadaman,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan sejati bukan pada pemadaman, melainkan pencegahan.

“Yang kita harapkan itu jangan sampai terjadi. Itu yang utama,” katanya.

Sebagai langkah konkret, patroli hutan akan terus dilakukan untuk mencegah aktivitas pembakaran liar.

“Kami akan tetap patroli. Kita jaga supaya tidak ada yang membuka lahan dengan cara membakar,” ujarnya.

Selain itu, sosialisasi akan diperluas dengan melibatkan aparat kepolisian hingga tingkat desa.

“Nanti juga dari Kapolres akan ada sosialisasi. Kami ikut turun supaya masyarakat benar-benar paham bahwa ini musim rawan,” tambahnya.

Di tengah tantangan lingkungan dan tekanan ekonomi di Bangka Barat, Melyadi menghadirkan pendekatan yang menempatkan kesadaran sebagai kekuatan utama.

Ia tidak menunggu kebakaran untuk bertindak, tetapi berupaya mencegahnya sejak awal.

“Harapan kita, dengan sosialisasi ini, dampak kebakaran bisa dicegah,” ujarnya.

Pendekatan ini membentuk citra Melyadi sebagai pemimpin yang tidak hanya mengelola hutan secara teknis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat sebagai benteng utama perlindungan lingkungan.

Dalam konteks ini, pencegahan karhutla bukan sekadar program kerja, melainkan gerakan perubahan yang dimulai dari satu hal sederhana untuk mengubah cara manusia memandang hutan.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *