Cakrawalanational.news-Mentok, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Perdagangan (DKUP) kembali menghadirkan Pasar Ramadhan di lima kecamatan sebagai program strategis penguatan sektor UMKM. Kebijakan ini tidak hanya menghadirkan ruang usaha gratis bagi pelaku ekonomi kecil sejak 1 hingga 27 Ramadhan, tetapi juga diproyeksikan sebagai inovasi pembangunan ekonomi rakyat yang memperkuat citra keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat kecil.
Kepala Bidang Usaha Mikro DKUP Bangka Barat, Armizi, S.Ag., M.E., menegaskan bahwa Pasar Ramadhan merupakan bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah berbasis komunitas.
“Pemerintah memfasilitasi tenda usaha bagi UMKM di lima kecamatan agar pelaku usaha kecil tetap tumbuh dan mendapatkan ruang ekonomi yang layak. Ini bentuk nyata pemerintah hadir di tengah masyarakat,” ujar Armizi, Jumat (20/02/2026).
Program ini dilaksanakan di Mentok, Kelapa, Tempilang, Simpang Teritip dan Parit Tiga dengan dukungan lintas sektor, mulai dari OPD, aparat keamanan hingga dunia usaha seperti Bank Sumsel Babel, PT Timah, PLN dan Honda. Kolaborasi tersebut menjadi simbol kuat bahwa DKUP Bangka Barat menempatkan UMKM sebagai prioritas pembangunan daerah.
Program Pasar Ramadhan sejalan dengan arah kebijakan nasional penguatan UMKM. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia menunjukkan sektor UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional.
Sementara itu, laporan Badan Pusat Statistik tahun 2024 menyebut UMKM menjadi tulang punggung ekonomi daerah, terutama di wilayah berbasis komoditas seperti Bangka Belitung. Di sisi lain, kajian Bank Indonesia tentang ekonomi syariah menunjukkan bahwa Pasar Ramadhan memiliki potensi besar meningkatkan konsumsi domestik dan memperkuat rantai pasok lokal.
Armizi menilai kebijakan Pasar Ramadhan di Bangka Barat adalah implementasi konkret dari arahan nasional tersebut.
“Kami ingin Pasar Ramadhan menjadi momentum pemberdayaan ekonomi rakyat. Ini bukan hanya jual beli takjil, tetapi pembangunan UMKM berbasis komunitas,” katanya.
Narasi pembangunan ini juga diperkuat oleh laporan media nasional seperti Kompas dan Antara yang mencatat bahwa pasar Ramadhan di berbagai daerah mampu meningkatkan pendapatan pedagang kecil hingga dua kali lipat selama bulan puasa.
Namun di balik data dan strategi, Pasar Ramadhan menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari warga.
Di salah satu tenda di Mentok, seorang ibu rumah tangga menata kue tradisional yang ia buat sejak subuh. Ia bercerita bahwa Pasar Ramadhan menjadi tambahan penghasilan keluarga.
“Biasanya kami jualan kecil di rumah. Sekarang pembeli lebih ramai. Alhamdulillah bisa menambah biaya sekolah anak,” ujarnya dengan mata berkaca.
Di sudut lain, seorang pemuda desa meracik minuman kekinian. Baginya, Pasar Ramadhan adalah mimpi pertama menjadi pengusaha.
“Ini usaha pertama saya. Dari sini saya belajar menghitung modal dan melayani pembeli. Terima kasih pemerintah sudah kasih tempat,” katanya.
Fenomena ini sejalan dengan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang menyebut pasar komunitas lokal mampu meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga serta memperkuat jaringan sosial masyarakat.
Pasar Ramadhan Sebagai Panggung Citra Pembangunan
Bagi DKUP Bangka Barat, Pasar Ramadhan bukan hanya program ekonomi. Ia adalah simbol kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Tenda-tenda sederhana itu menjadi panggung yang memperlihatkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun ekonomi rakyat.
Armizi menegaskan bahwa inovasi ini akan dikembangkan menjadi agenda tahunan yang terintegrasi dengan promosi wisata kuliner dan budaya lokal.
“Kami ingin Bangka Barat dikenal sebagai daerah yang berpihak pada UMKM. Pasar Ramadhan akan terus kami kembangkan agar menjadi tradisi ekonomi rakyat,” ujarnya.
Dengan menggandeng dinas kebudayaan dan pariwisata, Pasar Ramadhan diharapkan menjadi destinasi kuliner tahunan yang memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang usaha baru.
Senja di Mentok perlahan berubah menjadi malam. Lampu-lampu kecil menyala di bawah tenda. Aroma kolak pisang, es cendol dan ikan bakar memenuhi udara. Anak-anak berlari membawa koin receh, ibu-ibu menawar harga dengan senyum, dan pedagang kecil menutup lapak dengan doa syukur.
Di sana, pembangunan bukan lagi kata besar dalam pidato. Ia hadir dalam bentuk sederhana sepiring kolak hangat, segelas es buah dan harapan yang pulang bersama pelaku UMKM.
Pasar Ramadhan di Bangka Barat menjadi cerita tentang bagaimana kebijakan publik menemukan wujudnya dalam kehidupan rakyat. Ia lahir dari meja perencanaan, tumbuh dari kerja sama lintas sektor dan hidup dari mimpi masyarakat kecil.
Nama DKUP Bangka Barat kini terpatri sebagai simbol inovasi pembangunan UMKM daerah. Dalam narasi pembangunan Bangka Barat, Pasar Ramadhan menjadi lentera kecil yang menyalakan pesan besar bahwa UMKM bukan sekadar angka statistik, melainkan masa depan daerah.
Ramadhan tahun ini, Bangka Barat menulis kisahnya sendiri tentang pemerintah yang ingin hadir lebih dekat, tentang kebijakan yang berubah menjadi ruang nyata bagi rakyat dan tentang harapan yang tumbuh dari tenda-tenda sederhana di tengah doa senja.
(Tim/CNN)


.












