Example 728x250.

Di Tangan Remaja: Bupati Bangka Barat Menulis Masa Depan dari Panggung Duta Genre

banner 120x600

Penulis: Belva Al Akhab

Cakrawalanational.news-Mentok, Bangkabarat, Pagi itu terasa seperti banyak pagi seremonial lainnya kursi tersusun rapi, wajah-wajah resmi bersiap tersenyum dan tepuk tangan menunggu aba-aba. Namun di Gedung Majapahit Unmet PT Timah Tbk, Senin, 20 April 2026, Bupati Bangka Barat memilih untuk tidak sekadar hadir sebagai pembuka acara. Ia hadir sebagai narator atau mungkin, penulis skenario tentang masa depan yang ingin ia bentuk.

Grand Final Pemilihan Duta Generasi Berencana (Genre) 2026 mendadak menjelma lebih dari sekadar ajang seleksi. Ia menjadi panggung di mana kekuasaan berbicara dengan bahasa yang lebih halus bahasa harapan, kecemasan dan di sela-selanya kebijakan yang terukur.

“Nasib Bangka Barat ke depan ada di tangan generasi penerus bangsa,” ujar Markus, S.H., dengan tekanan suara yang tidak sekadar formalitas. Kalimat itu terdengar seperti kutipan klasik, tetapi di ruang itu, ia berubah menjadi semacam mandat atau bahkan beban yang diserahkan kepada mereka yang masih mencari jati diri.

Ia melangkah lebih jauh, hampir seperti sedang membangun narasi personalnya sendiri sebagai pemimpin yang sadar zaman.

“Jangan sia-siakan masa remaja dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadikan kalian remaja yang cerdas dan tangguh, menyiapkan masa depan dengan baik dan tenang,” ucapnya, seolah bukan hanya menasihati, tetapi juga menegaskan posisi moralnya di hadapan generasi muda.

Namun Markus tidak bermain di wilayah aman. Ia menyentuh luka yang selama ini menjadi bayang-bayang pembangunan yaitu stunting. Dengan nada yang terkontrol, ia membuka fakta yang tidak selalu nyaman.

“Kabupaten Bangka Barat saat ini masih dihadapkan dengan permasalahan stunting, meskipun angka prevalensi sudah di bawah 14 persen, masih ada beberapa desa dengan angka di atas 20 persen,” ungkapnya.

Di titik ini, pidato itu berubah menjadi semacam pengakuan publik bahwa di balik statistik yang membaik, ada realitas yang belum selesai. Seperti seorang orator yang memahami dramaturgi, Markus tidak berhenti pada masalah. Ia segera menggeser arah pembicaraan menuju solusi yang lebih simbolik, namun kuat secara naratif yaitu remaja.

“Saya harapkan kegiatan ini dapat menjadi wadah kreativitas dan inovasi remaja untuk membantu program pemerintah dalam mengatasi permasalahan stunting, pernikahan dini, seks pra nikah dan napza,” katanya.

Kalimat itu bukan sekadar ajakan. Ia sebagai bentuk pelimpahan peran. Dalam konstruksi yang dibangun, Duta Genre bukan lagi sekadar duta kampanye, melainkan “alat tempur sosial” generasi yang diproyeksikan untuk mengisi celah yang tidak mampu dijangkau sepenuhnya oleh birokrasi.

Lebih jauh, Markus seolah ingin memastikan bahwa peran itu tidak berhenti pada simbolisme.

“Tidak hanya sekadar seremonial belaka tanpa ada hasil yang nyata,” tegasnya, dalam nada yang terdengar seperti kritik baik ke dalam maupun ke luar.

Gambar: Para Peserta Grand Final Duta Genre di Gedung Majapahit Peltim Mentok, Senin (20/04/2026)

Di balik retorika itu, terselip sebuah upaya pencitraan yang nyaris elegan. Markus memposisikan dirinya bukan hanya sebagai administrator, tetapi sebagai kurator masa depan. Ia tidak hanya mengelola hari ini, tetapi mencoba terlihat sebagai pemimpin yang merancang esok.

Seperti banyak narasi besar lainnya, ia mengikat semuanya dengan konteks yang lebih luas yaitu bonus demografi. Sebuah istilah yang bagi sebagian orang terdengar seperti jargon teknokratis, tetapi di tangan Markus, ia menjadi alat dramatik.

“Perlu persiapan sejak dini dalam menghadapi bonus demografi tersebut,” ujarnya, menegaskan bahwa masa depan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, ia harus dipersiapkan bahkan direkayasa.

Namun di balik panggung dan kata-kata yang tersusun rapi itu, ada wajah-wajah muda yang menyimpan cerita masing-masing. Mereka yang berdiri sebagai finalis bukan sekadar peserta, tetapi representasi dari realitas sosial yang berlapis seperti keterbatasan akses, tekanan ekonomi, hingga perjuangan melawan stigma.

Bagi sebagian dari mereka, panggung ini bukan sekadar kompetisi. Ia sebagai ruang untuk terlihat, untuk diakui atau bahkan untuk keluar dari lingkaran yang selama ini membatasi.

Markus tampaknya menyadari itu atau setidaknya, ingin terlihat menyadarinya. Ia menutup pidatonya dengan pantun, sebuah gestur budaya yang sederhana namun sarat makna.

“Banyak remaja ke Pulau Nangka,
Mendayung perahu dengan hati-hati,
Banyak remaja pasti banyak dinamika,
Dimanapun berada Genre selalu di hati.”

Pantun itu terdengar ringan, tetapi di dalamnya tersimpan pengakuan remaja sebagai dinamika itu sendiri dengan liar, tidak selalu terarah, tetapi penuh potensi.

Pada akhirnya, acara ini meninggalkan lebih dari sekadar nama pemenang. Ia meninggalkan pertanyaan yang lebih dalam apakah masa depan benar-benar sedang diserahkan kepada remaja atau justru sedang dibingkai oleh mereka yang memegang kuasa?

Di panggung itu, Bupati Bangka Barat tidak hanya membuka acara. Ia sedang menulis narasi tentang krisis, tentang harapan dan tentang dirinya sendiri sebagai bagian dari solusi. Sebuah cerita yang, seperti masa depan itu sendiri, masih terus diperdebatkan arahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *