Example 728x250.

Tempilang dalam Pertarungan Melawan Narkoba, Remaja Terungkap Jadi Pengedar Sabu

banner 120x600

Penulis: Belva Al Akhab

Cakrawalanational.news-Tempilang, Bangkabarat, Dini hari di Desa Tempilang tidak lagi sekadar tentang kondusifitas. Ia kini menjadi saksi dari perang yang berlangsung diam-diam, perang melawan narkoba yang mulai menyasar generasi paling rapuh yaitu anak-anak remaja.

Sabtu, 18 April 2026, pukul 00.15 WIB, Tim “Ulat Bulu” Polsek Tempilang kembali bergerak dalam operasi senyap. Hasilnya bukan sekadar pengungkapan kasus, melainkan satu potret keras tentang bagaimana masa depan bisa direnggut sebelum sempat tumbuh.

Seorang remaja berinisial RR, masih di bawah umur, diamankan setelah polisi menemukan 33 paket diduga sabu dengan berbagai ukuran di rumahnya. Turut diamankan alat hisap, timbangan digital, hingga perlengkapan yang mengindikasikan aktivitas peredaran, bukan sekadar konsumsi.

Dengan berat bruto mencapai 19,28 gram, kasus ini bukan kategori kecil. Tetapi yang membuatnya jauh lebih besar adalah satu fakta bahwa pelakunya adalah anak.

Kasus ini membuka satu pola yang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, RR tidak hanya terindikasi sebagai pengguna, tetapi juga telah masuk ke dalam lingkar distribusi.

Ia mengaku memperoleh barang dari seseorang berinisial BR. Sebuah mata rantai yang mengarah pada jaringan yang lebih luas. Namun bagi aparat, yang lebih penting bukan hanya siapa di atasnya, melainkan bagaimana pola ini bekerja di bawah untuk merekrut, memanfaatkan, lalu membiarkan anak-anak menjadi perisai.

Kapolsek Tempilang, Ipda Deni Irawan, S.H., secara tegas menyebut ini sebagai ancaman serius yang sedang berkembang.

“Kami tidak lagi melihat narkoba hanya menyasar orang dewasa. Sekarang mereka masuk ke anak-anak. Bahkan lebih jauh, anak-anak ini dijadikan tameng dipakai untuk transaksi, dijadikan perantara, karena dianggap lebih aman oleh jaringan,” tegasnya.

Nada itu bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah garis sikap. Di Tempilang, perang terhadap narkoba kini bukan lagi soal menangkap pelaku, tetapi membongkar strategi yang lebih licin dan sistematis.

Apa yang diungkap polisi bukanlah kebetulan. Ini sebuah pola teroganisir.

Remaja, dengan segala kegelisahan usia keinginan diakui, tekanan ekonomi, hingga pencarian identitas menjadi target empuk. Mereka tidak hanya diracuni, tetapi juga direkrut. Dari pemakai, naik menjadi kurir. Dari kurir, pelan-pelan masuk ke distribusi.

Dalam logika jaringan, ini efisien. Dalam logika kemanusiaan, ini tragis.

“Ini yang harus dipahami masyarakat. Anak-anak kita bukan hanya terancam sebagai korban, tapi bisa dijadikan alat. Dan ketika itu terjadi, kita bukan hanya kehilangan satu individu, tapi satu generasi,” lanjut Kapolsek.

Gambar: 33 paket diduga sabu dengan berbagai ukuran diamankan oleh Tim Ulat Bulu

Dalam narasi penanganannya, Ipda Deni Irawan tidak berdiri hanya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai suara peringatan bagi masyarakat.

Ia menempatkan keluarga sebagai garis depan yang tak tergantikan.

“Peran orangtua itu kunci. Awasi, dampingi, dan kenali pergaulan anak-anak kita. Jangan sampai kita sibuk mencari ketika mereka sudah hilang arah,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa edukasi harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar slogan.

“Anak-anak muda harus dipahamkan sejak awal bahwa narkoba itu bukan gaya hidup, bukan jalan keluar. Itu jalan buntu. Sekali masuk, dampaknya panjang bisa menghancurkan masa depan mereka sendiri,” katanya dengan tekanan yang jelas.

Lebih dari itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak bersikap pasif.

“Kalau ada yang mencurigakan, laporkan. Jangan takut, jangan diam. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi soal menyelamatkan lingkungan kita sendiri.” tambahnya.

Di tengah pendekatan preventif, Kapolsek juga menegaskan satu hal yang tidak bisa ditawar yaitu penindakan.

“Kami tidak akan mentolerir peredaran narkoba di Tempilang. Siapa pun yang terlibat akan kami tindak tegas. Tidak ada ruang bagi pelaku yang merusak masa depan anak-anak kita,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi penanda arah bahwa pendekatan humanis tidak berarti lunak terhadap pelaku, terutama mereka yang secara sadar memanfaatkan anak-anak sebagai tameng.

Kasus RR hanyalah satu titik dalam peta yang lebih luas. Ia bukan awal, dan mungkin bukan yang terakhir. Namun ia cukup untuk menjadi peringatan keras bahwa Tempilang sedang menghadapi sesuatu yang lebih dari sekadar kriminalitas, tetapi ini sebagai krisis generasi.

Narkoba tidak datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang dengan janji uang cepat, keberanian palsu, pelarian instan. Di usia remaja, janji-janji itu terdengar seperti jawaban.

Di situlah bahayanya.

Ketika keluarga lengah, ketika lingkungan abai, ketika harapan tidak cukup kuat untuk menahan godaan maka narkoba tidak perlu memaksa. Ia cukup menunggu.

Malam itu, satu remaja diamankan. Tetapi di balik itu, ada pertanyaan yang lebih besar yang terus bergema di pesisir Tempilang:

Berapa banyak lagi yang sedang berjalan di jalur yang sama, tanpa pernah terdeteksi?

Di tengah desiran ombak laut, pertarungan ini tidak terdengar. Tetapi dampaknya nyata. Perlahan, sistematis, dan tanpa suara, ia mengincar masa depan.

Di garis depan pertarungan itu, kini berdiri sebuah pesan yang tegas dari Polsek Tempilang bahwa generasi muda bukan untuk dikorbankan melainkan untuk diselamatkan, sebelum semuanya terlambat.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *