Example 728x250.

Penguatan Tata Kelola Kemitraan Sawit, Apkasindo Belitung dan PT BAT Sinkronkan Evaluasi Strategis

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Taniungpandan, Komitmen memperkuat tata kelola kemitraan perkebunan kelapa sawit yang adil, transparan, dan berkelanjutan kembali ditegaskan dalam forum koordinasi dan evaluasi antara Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Belitung dan PT Bina Agro Tani (BAT), yang digelar di ruang pertemuan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung, Rabu (15/4/2026).

Pertemuan tersebut menghadirkan jajaran pengurus Apkasindo Belitung, perwakilan manajemen PT BAT, serta unsur pemerintah daerah yang dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Hamzah, S.Pt.

Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan berbagai aspek kemitraan, khususnya terkait sistem grading Tandan Buah Segar (TBS), tata kelola distribusi Delivery Order (DO), serta penguatan pembinaan petani dalam menghadapi dinamika sektor perkebunan sawit rakyat.

Konsistensi Grading Jadi Sorotan Utama

Ketua Apkasindo Belitung, Mahdar, menegaskan bahwa konsistensi penerapan sistem grading TBS sesuai nota kesepahaman (MoU) menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan petani terhadap pola kemitraan.

Menurutnya, implementasi standar yang tidak seragam berpotensi menimbulkan ketidakpastian serta memengaruhi stabilitas pendapatan petani.

“Penerapan grading harus kembali pada kesepakatan awal yang telah disusun bersama. Kepastian dan transparansi menjadi kunci agar kemitraan ini tetap berjalan sehat dan berkeadilan,” tegasnya.

Selain itu, Apkasindo juga mendorong penguatan program pendampingan berbasis pelatihan teknis yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas produksi dan daya saing petani.

Penataan Distribusi DO untuk Cegah Distorsi Pasar

Isu lain yang mengemuka adalah perlunya penataan distribusi Delivery Order (DO) yang dinilai belum optimal. Dengan jumlah DO yang saat ini mencapai sekitar 25 unit, Apkasindo menilai diperlukan langkah evaluatif untuk memastikan distribusi berjalan lebih tertib dan akuntabel.

Kekhawatiran juga mencuat terkait indikasi masuknya DO dari luar Pulau Belitung yang berpotensi membawa TBS dari sumber yang tidak terverifikasi.

“Kami menilai perlu ada kejelasan asal-usul TBS yang masuk, guna menghindari potensi pelanggaran, termasuk risiko peredaran buah ilegal yang dapat merugikan petani lokal,” ujar Mahdar.

Lebih lanjut, Apkasindo mendorong penerapan prinsip satu DO satu tanggung jawab, disertai pendataan ulang kebun petani secara komprehensif sebagai langkah preventif terhadap praktik DO ganda.

PT BAT Tegaskan Komitmen Perbaikan

Menanggapi berbagai masukan tersebut, pihak PT BAT menyampaikan apresiasi serta komitmen untuk melakukan evaluasi dan pembenahan secara menyeluruh.

Perusahaan menjelaskan bahwa dinamika grading di lapangan dipengaruhi sejumlah faktor teknis, seperti kualitas buah, kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi, serta temuan TBS dengan tingkat kematangan yang belum optimal.

Meski demikian, PT BAT memastikan seluruh catatan yang disampaikan akan menjadi bahan evaluasi internal dan akan dikoordinasikan dengan manajemen pusat, termasuk dalam aspek pengawasan distribusi DO.

Penguatan Peran Pemerintah dan Sinergi Multipihak

Forum ini juga menegaskan pentingnya peran aktif pemerintah daerah dalam memperkuat fungsi pembinaan dan pengawasan guna menciptakan ekosistem kemitraan yang sehat dan berkelanjutan.

Seluruh pihak sepakat bahwa intensitas komunikasi dan koordinasi menjadi faktor kunci dalam merumuskan solusi yang konstruktif dan saling menguntungkan.

Dengan rencana implementasi program pelatihan dari PT BAT dalam waktu dekat, diharapkan kualitas TBS petani terus meningkat, tata kelola kemitraan semakin solid, serta potensi konflik dapat diminimalisir melalui penguatan sinergi antara perusahaan, petani, dan pemerintah daerah.

(Alai/CNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *