Example 728x250.

Adet Sebagai Kader Merasa Terdzolimi, Karena Tak Diusung PDI Perjuangan 

banner 120x600

CNN–Pangkalpinang, Minggu, 4 Agustus 2024, Momentum kontestasi politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serempak yang bakal digelar 27 November 2024 nanti ternyata tak pernah luput dari biaya ataupun ongkos yang harus dikeluarkan.

Mulai dari persiapan infrastruktur pemenangan, logistik, hingga ‘mahar’ politik dalam rangka mendapatkan ‘tiket’ dari partai politik sebagai kendaraan untuk ikut bertarung khususnya di gelanggang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di tingkat Bupati ataupun walikota bahkan Gubernur.

Tak terkecuali kader ataupun pengurus partainya sendiri, jikalau mau maju di gelanggang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), ada istilah “wani piro’.

Wajar saja, mahar politik itu kemudian menjadi ‘hantu’ bagi bakal calon (Balon) Kepala Daerah. Mengapa?, karena Balon Kepala Daerah sudah harus mulai merogoh kantongnya saat mendaftar ke partai politik yang melakukan penjaringan dalam proses menentukan kandidat.

Sementara, ada yang dihadapkan lobi-lobi untuk membeli kursi di masing-masing partai sebagai modal pengusung pasangan kandidat atau Balon Kepala Daerah Bupati/walikota ataupun Gubernur.

Tidak menutup kemungkinan, para Balon Kepala Daerah tersebut saat memburu kursi partai untuk mendapatkan ‘kereta kendaraan’ tentu harus melihat ‘mahar’ terlebih dahulu.

Bisa jadi, patokan itu bertarif mulai ratusan hingga lima ratusan juta per-kursi oleh partai politik yang bakal mengusung Balon tersebut, kendati hal semacam ini sulit dideteksi oleh kasat mata.

Mungkin peristiwa itu, sama halnya seperti yang terjadi di Kabupaten Bangka Tengah saat ini, khususnya dari kader dan sekaligus pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Adet, SH.MH

Kenapa?, meskipun Ia adalah kader dan pengurus senior sekaligus anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung dari Fraksi PDIP ternyata tidak serta merta Ia dicalonkan oleh Partainya sebagai bakal calon (Balon) Kepala Daerah di Kabupaten Bangka Tengah tempat tinggalnya yang merupakan daerah pemilihan (Dapil) nya sendiri.

Akibatnya, Ia merasa terdzolimi oleh para pengurus partainya sendiri yang berlambang Banteng moncong putih tersebut. Sehingga membuat Ia sangat kecewa dengan PDI Perjuangan yang selama ini tempat Ia mengabdi dan Ia banggakan dan berslogan partai wong cilik.

Padahal menurut Adet saat diwawancara Media Cakrawala Nationalnews secara eksklusif di rumahnya, Desa Teru Kecamatan Simpangkatis Bangka Tengah, Minggu (4/8/2024). Bahwa, terhitung tahun 1997 beliau sudah bergabung dan menjadi kader sekaligus pengurus PDI Perjuangan sebagai Koordinator Desa (Kordes) Keretak Kecamatan Sungaiselan Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.

Hingga saat ini, Ia pun masih menjadi pengurus PDI Perjuangan sebagai Ketua Badan Kehormatan Partai dan pernah menjadi Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Jadi, kalau dikatakan kader saya adalah kader senior, mulai tahun 1997, dan tahun 1999 saya sudah menjadi anggota DPRD Kabupaten Bangka termuda se-Indonesia. Kita masih bergabung dengan Sumsel belum terbentuk Provinsi Bangka Belitung. Saat inipun saya masih aktif sebagai Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung dari PDI Perjuangan dan masih aktif sebagai pengurus DPD PDI Perjuangan Provinsi Bangka Belitung”, ungkap Adet.

Oleh karenanya, dengan dibukanya pendaftaran bakal calon (Balon) Kepala Daerah Kabupaten Bangka Tengah tentu menurut Adet, ini merupakan kesempatan bagi kader untuk mendaftar, berkompetisi melalui proses penjaringan dengan beberapa tahapan yang telah dilalui.

“Pendaftaran sebagai kepala daerah, saya sudah melalui proses, saya sudah mendaftarkan diri ke PDI Perjuangan, saya bawak rombongan, saya bawak keluarga karena itu ada tahapan-tahapan, ada proses, semua proses sudah kita lalui”, papar Adet.

Namun ironisnya, ‘lamaran’ pendaftarannya kepada partai yang selama ini Ia banggakan yakni PDI Perjuangan ditolak. Karena DPP Partai berlambang banteng itu telah merekomendasikan bakal calon (Balon) Algafry Rahman yang notabene adalah incumbent atau petahana yang masih menjabat bupati Bangka Tengah (Bateng) sekarang.

“Secara pribadi saya kecewa, karena saya ini adalah kader, kalau kita bicara alasan, saya nggak tau alasan PDI Perjuangan. Saya tidak mempertanyakan kepada mereka, yang jelas dalam proses saya melihat PDI Perjuangan ini tidak lagi membawa nama marwah partai. Yang tadinya PDI Perjuangan partai kebanggaan saya adalah partai wong cilik, partai sandal jepit, ya, saya sangat kagum miliki partai itu”, tandasnya.

Lebih jauh Adet katakan, kalau ia sebenarnya dari kalangan keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya adalah seorang penjual ikan sedangkan ibunya seorang petani. Oleh sebab itulah Ia merasa tersalurkan untuk menampung aspirasinya melalui partai kebanggaannya PDI Perjuangan.

“Rupanya setelah kita berproses-berproses ternyata kaum marhaen yang ada di PDI Perjuangan itu sudah tidak lagi. PDI Perjuangan, saya melihat sekarang ini pengen orang kapitalis, maka dari itu karena saya berasal dari orang kurang mampu anak si penjual ikan sehingga rekom itu tidak keluar”, pungkas Adet.

Ditambahkan Adet, kalau selama ini pengabdiannya Ia didoktrin berjuang untuk membela PDI Perjuangan hingga mengeluarkan daki keringat hingga berdarah-darah bahkan bernanah-nanah ternyata Ia menilai semua itu sia-sia dan percuma saja.

“Saya katakan percuma saya mengeluarkan keringat berdaki-daki, berdarah-darah bahkan bernanah-nanah di PDI Perjuangan ini yang didoktrin sebagai kader militan percuma rupanya, nggak ada lagi marwah partai saya katakan, mereka lebih memilih orang-orang yang kapitalis yang tak pernah berdaki, jangankan berdarah-darah, bernanah-nanah, berkeringat di PDI Perjuangan nggak ada”, ungkap Adet.

Terlepas dari itu, Adet masih optimis untuk maju sebagai peserta calon kepala daerah di Bangka Tengah melalui partai lain. Karena Ia sebagai putra daerah merasa terpanggil oleh masyarakat Bangka Tengah untuk membangun Bangka Tengah bersama-sama dengan program-programnya yang lebih maju dan lebih sejahtera.

“Dalam baleho saya itu Pembaharuan, baru semua, yang tadi sudah baik kita teruskan lebih baik lagi, yang belum dilakukan harus kita lakukan, kita perbaharui supaya Bangka Tengah lebih dikenal lebih banyak pembangunan, masyarakatnya sejahtera”, imbuhnya.

Agar berita berimbang, Media Cakrawala Nationalnews tepat pukul 22.00 (4/8/2024) malam tadi, berusaha menghubungi Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bangka Belitung, Didit Srigusjaya, SH.MH, melalui telepon Whatsapp tapi tidak ada jawaban. Tak sampai disitu, wartawan pun menanyakan melalui pesan WhatsApp, ‘mengapa PDI Perjuangan tidak merekomendasikan Adet sebagai Balon peserta Kepala Daerah di Bangka Tengah, juga tak ada balasan. (Haj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *