Penulis: Belva Al Akhab
Cakrawalanational.news-Mentok,Bangkabarat, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui DP3APKB resmi memperkuat arah pembangunan keluarga dengan menggandeng RSIA Dzakirah Pangkalpinang dalam pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2026 untuk peningkatan kepesertaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Program ini ditujukan untuk memperluas akses layanan kesehatan reproduksi sekaligus mendorong terbentuknya keluarga yang lebih terencana, sebagai fondasi masa depan daerah.
Kepala DP3APKB Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd., menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk konkret kehadiran negara dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
“Kerja sama dengan RSIA terkait fasilitasi penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang adalah program bantuan pemerintah kepada masyarakat yang sepenuhnya difasilitasi pemerintah lewat DAK, sehingga membantu masyarakat dalam pembiayaan penggunaan metode kontrasepsi tersebut,” ujarnya, Kamis (23/04/2026).
Program ini menyasar pasangan usia subur yang ingin merencanakan jumlah anak dengan pendekatan yang lebih aman, efektif, dan terjangkau.
“Program ini memfasilitasi terutama pasangan keluarga yang ingin mengatur jumlah anak atau anggota keluarga dengan pembiayaan sepenuhnya dibantu pemerintah lewat DAK,” lanjutnya.
Lebih jauh, Sarbudiono menekankan bahwa kebijakan ini bukan sekadar upaya teknis, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan manusia di Bangka Barat dimulai dari keluarga sebagai unit paling dasar.
“Pengaturan jumlah keluarga tentu dengan perencanaan dan tujuan agar bisa fokus memberikan kesejahteraan anggota keluarga, dengan perencanaan yang matang agar anggota keluarga (anak) bisa mendapatkan perlindungan utuh atas kebutuhan hidup, kebutuhan dasar dan kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan,” tuturnya.
Kerja sama dengan RSIA Dzakirah Pangkalpinang, menurutnya, telah melalui kajian menyeluruh, terutama terkait standar layanan kesehatan yang akan diterima masyarakat.
“Dengan RSIA Dzakirah bukan serta-merta tanpa pembahasan maupun kajian. Tentu sarana kesehatan yang dimiliki oleh RSIA Dzakirah Pangkalpinang dan prosedur pelayanan yang diberikan sudah terstandar kesehatan,” jelasnya.
Sarbudiono juga menegaskan bahwa program ini merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas generasi Bangka Barat ke depan.
“Program ini merupakan investasi dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan generasi ke depan agar terencana dengan baik,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap konsep keluarga berkualitas.
“Pemahaman masyarakat terkait program keluarga berkualitas tentu harus diperjelas sehingga program keluarga berkualitas (KB) bisa diterima dengan baik, bukan penentangan. Namun tidak semua masyarakat bisa menerima tujuan membentuk keluarga berkualitas. Di sinilah fungsi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) menjadi urgent sehingga mengikis pemahaman masyarakat yang awam menjadi paham terhadap tujuan pemerintah dalam pembangunan keluarga,” ungkapnya.
Ke depan, Sarbudiono berharap program ini mampu memberikan dampak nyata terhadap pengendalian pertumbuhan penduduk dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Harapannya angka pertumbuhan penduduk bisa terkontrol dan pembangunan generasi dari program pembangunan keluarga dapat tercapai secara bertahap,” ujarnya.
Namun di balik struktur kebijakan dan bahasa administratif, terdapat makna yang lebih dalam. Sebuah upaya membangun masa depan dari ruang yang paling sederhana di dalam keluarga.
Di Bangka Barat, pembangunan tidak lagi semata berbicara tentang infrastruktur atau angka statistik. Ia bergerak perlahan, masuk ke dalam rumah-rumah, menyentuh percakapan suami-istri tentang berapa anak yang mampu mereka rawat, tentang bagaimana mereka ingin melihat anak-anaknya tumbuh bukan sekadar hidup, tetapi hidup dengan layak.
Dana Alokasi Khusus yang selama ini identik dengan proyek fisik, di tangan Sarbudiono menjelma menjadi instrumen yang lebih halus untuk membiayai harapan. Ia tidak membangun gedung, tetapi membantu membangun kesiapan. Ia tidak meresmikan jalan, tetapi membuka jalan pikir.
Di titik itulah, kebijakan berubah menjadi narasi. Bahwa masa depan Bangka Barat tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak hari ini, tetapi oleh keputusan-keputusan kecil yang diambil dalam keluarga tentang merencanakan, tentang menunda, tentang mempersiapkan.
Langkah Sarbudiono mungkin tidak gaduh. Tidak selalu hadir dalam headline besar. Namun justru di sanalah letak kekuatannya. Ia bekerja di hulu kehidupan, memastikan bahwa setiap kelahiran membawa kemungkinan bukan keterpaksaan.
Ketika suatu hari nanti Bangka Barat berbicara tentang generasi yang lebih sehat, lebih terdidik dan lebih sejahtera, barangkali jejaknya bisa ditelusuri ke hari ini. Pada sebuah kebijakan yang lahir dari kesadaran sederhana bahwa membangun daerah, pada akhirnya untuk membangun keluarga.
(Red)


.












