Example 728x250.

Perang Ruang di Pasir Kuning: Camat Tempilang Ultimatum Tambang Ilegal Angkat Kaki dari Pantai Wisata

banner 120x600

Cakrawalanational.news-TEMPILANG, BANGKA BARAT, Camat Tempilang Rusian, http://S.Km., M.H. tak lagi memberi toleransi. Bersama Forkopimcam, ia memimpin sidak langsung ke Pantai Pasir Kuning, Jumat (10/4/2026), menyetop aktivitas tambang inkonvensional yang mengepung kawasan wisata strategis Bangka Barat itu.

Langkah tegas itu diambil setelah Pantai Pasir Kuning, yang ditetapkan sebagai destinasi wisata unggulan Kecamatan Tempilang, justru dipenuhi jejak kerusakan. Di lokasi, tim menemukan deretan speed boat milik penambang parkir sembarangan di garis pantai. Bekas oli mencemari pasir putih, sampah plastik berserakan bercampur residu tambang.

“Kawasan ini sudah jelas menjadi zona wisata. Tidak boleh lagi ada aktivitas yang merusak,” kata Rusian saat sidak.

Langgar Kesepakatan Berulang Kali

Menurut Rusian, pemerintah kecamatan sudah berulang kali memfasilitasi kesepakatan dengan para penambang. Poinnya jelas: tambang dilarang beroperasi mendekati pantai, speed boat tidak boleh parkir di kawasan wisata, dan pekerja pendatang wajib terdata.

Namun fakta di lapangan berbanding terbalik. Kesepakatan hanya jadi dokumen. Aktivitas tambang justru makin masif dan nyaris tanpa kendali.

“Kita sudah sering mengingatkan. Kalau tidak diindahkan, tentu akan ada tindakan lebih tegas,” tegas Rusian.

Ia memberi ultimatum 3 hari kepada seluruh penambang untuk menghentikan aktivitas dan menyingkirkan semua peralatan dari kawasan pantai.

*Tak Cukup Instruksi, Forkopimcam Turun Bersihkan

Tiga hari setelah ultimatum, Rusian kembali ke Pantai Pasir Kuning. Kali ini bersama Forkopimcam untuk aksi bersih-bersih. Speed boat dipindahkan paksa dari bibir pantai. Sampah dan sisa oli diangkut.

“Kita tidak bisa bicara pariwisata kalau lingkungannya kotor. Penertiban tidak cukup dengan instruksi,” ujarnya sambil memungut sampah plastik yang tersangkut di batu karang. Seorang nelayan tua yang ikut membantu hanya berkata pelan: “Laut ini dulu memberi. Sekarang kami harus berjuang untuk sekadar bertahan.”

Dampak Tambang: Nelayan dan Wisata Jadi Korban

Rusian menyebut konflik ruang di Pasir Kuning adalah potret tarik-menarik ekonomi jangka pendek melawan keberlanjutan. Saat laut tercemar, nelayan tradisional paling dulu terdampak. Hasil tangkapan turun, biaya melaut naik. Saat pantai rusak, pelaku UMKM wisata kehilangan pengunjung.

“Sementara keuntungan tambang sering tidak kembali ke masyarakat sini,” kata Rusian.

Langkah Selanjutnya: Pengawasan Rutin hingga Proses Hukum

Forkopimcam Tempilang memastikan sidak ini bukan yang terakhir. Pengawasan rutin akan digelar. Koordinasi dengan aparat penegak hukum juga disiapkan bila ultimatum kembali dilanggar. Opsi penyegelan lokasi hingga proses pidana terbuka.

Hingga Senin (13/4/2026), sebagian Pantai Pasir Kuning mulai terlihat bersih. Speed boat tambang sudah tidak ada di garis pantai. Namun Rusian menegaskan ini baru tahap awal.

“Pantai Pasir Kuning belum sepenuhnya pulih. Tapi setidaknya, untuk saat ini, ia tidak lagi dibiarkan,” tutupnya.

(Belvia Al Akhab dan Satrio)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *