Cakrawalanational.news-Bangka Barat, Subuh di Kota Tua Mentok selalu datang dengan cara yang sama yaitu pelan, asin oleh angin laut dan penuh doa. Dari menara tua Masjid Jami Mentok, azan mengalun lembut, menembus lorong-lorong Pecinan, rumah panggung Melayu dan sisa-sisa gudang kolonial yang pernah menyimpan timah.
Lebih dari 140 tahun, masjid batu ini berdiri di jantung Bangka Barat sebagai saksi perjalanan iman dan toleransi masyarakat Mentok. Dibangun tahun 1880 dan diresmikan 1883, Masjid Jami Mentok merupakan rumah ibadah Islam pertama di Pulau Bangka yang dibangun dari batu penanda kemapanan spiritual sekaligus ekonomi umat Muslim di Kota Pelabuhan Tua ini.
“Masjid tertua di Mentok itu Masjid Jami. Didirikan tahun 1880 dan diresmikan tahun 1883. Ini masjid pertama di Pulau Bangka yang dibangun dari batu. Sebelumnya rumah ibadah Islam masih dari papan,” ujar M. Ferhad Irvan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, Kamis (19/02/2026).
Hari ini, masjid itu bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah pusat sejarah Islam, simbol toleransi dan potensi wisata religi yang perlahan mulai disadari kembali.
Pada akhir abad ke-19, Mentok adalah simpul perdagangan. Kapal-kapal membawa timah ke Eropa. Pedagang Melayu berdagang lada. Saudagar Tionghoa membuka toko obat, kain dan rempah. Orang Eropa mengatur pelabuhan dan gudang.
Namun di tengah hiruk pikuk itu, seorang Demang Mentok bernama Abang Muhammad Ali melihat kekosongan rohani di kota pelabuhan ini.
Ia telah menjelajah Jawa, Semenanjung Melayu, hingga Kesultanan di Sumatera. Di setiap kota besar, ia melihat masjid megah sebagai pusat iman dan pendidikan. Mentok belum memilikinya.
Ia mengumpulkan masyarakat, para saudagar, para pemilik tanah. Mereka bergotong royong membangun masjid dari batu sebagai bahan yang mahal dan berat pada masa itu.
“Masjid ini bukan proyek pribadi. Ini gotong royong masyarakat Mentok,” kata Ferhad Irvan.
Dua tahun pembangunan menghasilkan bangunan sederhana namun berwibawa. Sejak azan pertama berkumandang, Islam di Mentok menemukan rumahnya.
Masjid Jami dibangun di titik netral di antara kampung-kampung Melayu. Di timur dan barat tinggal keluarga Melayu, di tengah kota Pecinan, di selatan klaster Eropa.
Lokasi masjid dipilih agar semua keluarga besar Mentok merasa memiliki.
“Kalau masjid dibangun di kampung tertentu, keluarga lain mungkin tidak mau datang. Lokasi ini dipilih agar semua keluarga Mentok bersatu,” ujar Ferhad Irvan.
Di sana, orang menikah, bermusyawarah, menyelesaikan sengketa, dan menguburkan orang tua mereka. Masjid menjadi pusat kehidupan sosial, spiritual dan budaya.
Dalam sejarah Islam Nusantara, inilah cara dakwah tumbuh lewat akhlak, persatuan dan teladan.
Tak jauh dari masjid berdiri kelenteng tua yang diperkirakan berdiri sekitar 1830. Dua rumah ibadah berdampingan yaitu azan dan bunyi lonceng, doa Arab dan dupa Tionghoa menjadi irama kehidupan Mentok.
“Toleransi itu perasaan, bukan sekadar simbol. Tapi di Mentok, masjid dan kelenteng berdampingan menjadi simbol nyata,” kata Ferhad Irvan.
Sejak dulu, warga Melayu dan Tionghoa saling bertamu saat hari raya. Saat Idul Fitri, tetangga Tionghoa datang bersilaturahmi. Saat Imlek, warga Muslim membantu parkir dan keamanan.
Di bulan Ramadhan, pedagang Tionghoa menurunkan volume musik toko saat tarawih. Tetangga Melayu mengirim bubur sahur.
Mentok menjadi kota kecil yang mengajarkan Indonesia arti hidup berdampingan.
Saat Ramadhan tiba, Masjid Jami berubah menjadi lautan cahaya. Lampu gantung tua memantulkan bayang jamaah. Anak-anak mengaji dengan suara lirih. Para nelayan menunaikan tarawih setelah melaut.
Di halaman masjid, aroma kolak bercampur angin laut.
Seorang jamaah tua berkata pelan, “Masjid ini bukan cuma batu. Ini doa nenek moyang kita.” jelas jemaah bernada pelan.
Masjid menjadi tempat rakyat berdoa saat penjajahan, tempat menenangkan hati saat krisis timah, tempat mencari damai di tengah zaman modern.
Di sana, Islam tumbuh sebagai cahaya, bukan bayangan.
Potensi Wisata Religi Kota Pusaka
Sebagai bagian dari kota pusaka Mentok, Masjid Jami memiliki potensi besar sebagai wisata religi.
Ia bisa menjadi pusat ziarah sejarah Islam Bangka bersama pelabuhan tua, rumah kolonial, makam ulama dan kampung-kampung tua.
Masjid ini juga pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai simbol toleransi antar-umat beragama di Pulau Bangka.
Namun, dokumentasi sejarah masih minim. Papan informasi kurang. Arsip belum tertata.
Padahal, wisata religi bukan sekadar kunjungan. Ia adalah perjalanan rohani mengenal sejarah iman, memahami budaya Islam Melayu dan belajar toleransi.
Mentok memiliki semua unsur itu.
Sejarah Masjid Jami Mentok menunjukkan Islamisasi di Bangka tidak datang dengan pedang, tetapi dengan teladan.
Lewat perdagangan, pernikahan, gotong royong dan pendidikan.
Masjid menjadi pusat dakwah yang menenangkan, bukan menakutkan.
Islam tumbuh bersama budaya Melayu, berdampingan dengan tradisi Tionghoa, dan bertahan melewati kolonialisme.
Inilah wajah Islam Nusantara yaitu lembut, ramah dan penuh hikmah.
Masjid Jami telah mengalami renovasi kecil seperti genteng diganti, plafon diperbarui namun struktur utama tetap dipertahankan.
Masjid ini bukan hanya bangunan aktif, tetapi arsip hidup sejarah Islam Bangka.
Jika dikelola serius sebagai wisata religi, Mentok bisa menjadi pusat studi sejarah Islam di Sumatera bagian timur.
Tur ziarah, museum kecil masjid, dokumentasi arsip, dan pendidikan sejarah lokal bisa menghidupkan kembali kota pusaka ini.
Di Mentok, waktu berjalan pelan. Kapal timah datang dan pergi. Generasi berganti.
Namun azan dari Masjid Jami tetap sama.
Ia mengingatkan bahwa iman bisa hidup berdampingan dengan perbedaan.
Bahwa toleransi lahir dari hati, bukan slogan.
Bahwa sejarah Islam di Bangka adalah kisah kasih, bukan konflik.
Di bawah kubah batu itu, doa-doa tua masih bergetar.
Di antara gang Pecinan dan rumah Melayu, Ramadan selalu datang membawa harapan.
Dan di kota kecil di tepi laut itu, Masjid Jami tetap berdiri
sebagai cahaya wisata religi,
sebagai saksi iman,
sebagai pelita toleransi di tanah timah Mentok.
Penulis : Belva Al Akhab/Tim


.












