Example 728x250.

Perjuangan Fatih Kriopanting Alias Batintikal, Sultan Babel tak Berbekas

banner 120x600

Episode 4

Cakrawalanational.news-Pangkalpinang, Setelah Pemerintahan Kesultanan Bangka-Belitung (Babel) yang sebelumnya adalah turunan dari Kesultanan Darussalam ini mutlak dikuasai Belanda, maka wilayah Babel mengalami kekacauan dimana-mana. Akibatnya rakyat mengalami penderitaan oleh penindasan Kompeni Belanda.

Sementara di perairan Kepulauan Bangka dikuasai sekelompok Bajak Laut atau akrab disebut Lanon yang kerap mengganggu penduduk kampung pesisir. Bahkan, para penjahat Lanon tersebut tidak segan-segan menculik anak gadis untuk dijadikan gundik pemuas nafsu mereka, sedangkan anak pria dijadikan calon anggota lanon.

Tidak heran, kalau penduduk kampung pesisir dihantui rasa takut yang luar biasa. Bahkan, para pedagang dari Bangsa Arab dan Tiongkok pun jadi sasaran empuk para lanon, akibatnya para pedagang manca negara itu takut berlayar melalui perairan Bangka, sehingga Selat Malaka menjadi sepi.

Kendati demikian, para pedagang dari arab tidak tinggal diam, dengan segala upaya mereka terus melakukan perdagangan antar negara secara diam-diam. Namun, “pucuk dipulang ulampun tiba” ternyata ada seorang Putra Mahkota Sultan Muhammad Ali alias Krio Panting yakni Raden Muhammad Akil yang masih selamat dari peperangan di laut Mentok yang terluka dan bertemu dengan para pedagang Arab.

Sebelumnya, Ia diselamatkan oleh para Pedagang Gujarad hingga dibawa ke negeri Arab untuk menetap beberapa tahun. Atas laporan dari pedagang Arab tersebut Muhammad Akil berniat akan menumpas para bajak laut atau Lanon sepulang dari ibadah haji. Atas saran itu Raden Muhammad Akil tidak menunggu lama beliau pulang ke Bangka dan bertempat di Kota Waringin sembari menghidupkan kembali Kesultanan orang tuanya yang sudah runtuh di Bangka secara diam-diam dari pemerintahan Belanda (1856-1916).

Dari sisa-sisa pemerintahan kesultanan Ayahnya, Muhammad Akil menyusun kekuatan pemerintahan baru ketika itu, maka diangkat lah beberapa Dato’ untuk memimpin dan menjaga wilayahnya masing-masing.

Diantaranya, mulai dari Kampung Sungaiselan yang sering menjadi sasaran para Lanon didaulat Datuk Jafar Sidik menyamar menjadi petani di Pulau Nangka dan Tanjungtedung, saat ini masih ada rekam jejak makam Keramatnya (Syeh Ja’far Sidiq-red) di Pulau Nangka.

Ada lagi Datuk Terang didaulat menjaga Kampung Kurau juga sering menjadi sasaran Lanon, Ia menyamar menjadi petani dan tukang pandai besi di kampung kurau. Datuk Paga didaulat menjaga Kampung Penyak yang juga menjadi sasaran lanon dan menyamar menjadi petani di kampung Penyak, Datuk Berembun didaulat menjaga Kampung Tanjungberikat dan perairan sampai Pulau Kelasa menyamar menjadi nelayan di Kampung Tanjungberikat, Datok Jamila didaulat menjaga Kampung Penutuk Pulau Lepar menyamar menjadi petani dan nelayan, Datuk Hulung (Sulung) didaulat menjadi penjaga Kampung Tanjunglabu Pulau lempar menyamar menjadi nelayan dan petani dan sebagainya.

Disisi lain, Sultan Muhammad Akil juga mengadakan hubungan dagang kepada pedagang Arab dan Tiongkok secara diam-diam dari pemerintah Belanda. Namun akhirnya Sultan Muhammad Akil menjadi buronan Hindia Belanda. Hingga Kolonial Penjajah ini pun kebingungan mencari putra Batin Tikal tersebut karena kehilangan jejak.

Sampai kini pun masih misterius, belum ada yang tahu dimana keberadaan dan pemakaman Sultan Muhammad Akil, segelintir informasi beliau dibawa oleh pedagang Gujarat ke Negeri Arab. Sedangkan Padepokan dan bekas-bekas tempat belajar agama islam di Kesultanan Bapaknya (Batin Tikal) yang di Bangka Kota (Kute) Bangka Selatan secara fisik nyaris tidak tersisa dan tanpa jejak dihancurkan Belanda.

Apalagi, tempat berdirinya Kesultanan Muhammad Akil di Desa Kotawaringin yang saat ini masuk dalam wilayah Pudingbesar Kabupaten Bangka, baru se-umur jagung hilang tak berbekas hingga sekarang.

Namun perlu diketahui sekilas tentang Lanon, adalah sisa-sisa pasukan Hulu Balang Nilam yang telah menjadi penghianat dan bersekutu dengan Belanda melawan pasukan pejuang Bangka yang dipimpin Fatih Krio Panting saat itu. Pada waktu itu Hulu Balang Nilam merekrut pendekar golongan hitam yang didatangkan dari luar Pulau Bangka, Lanon pun propaganda Belanda untuk mengacaukan para pedagang dari Arab dan Tiongkok agar para pedagang takut berdagang melalui perairan Selat Bangka hingga Selat Malaka.

Tak ayal Belanda pun bisa memonopoli perdagangan timah dan rempah-rempah dari Sunda Kelapa Pulau Jawa sampai Sumatera dan Bangka-Belitung. Apalagi ketika itu, jalur perdagangan laut Kepulauan Bangka Belitung dan Selat Malaka merupakan lalu-lintas laut strategis yang ramai di lalui para pedagang dari manca negara.

Hingga sekarang pun timah masih menjadi komoditas utama tambang di Pulau Bangka, terhitung aktivitas penggalian tambang timah sejak dilakukan pada abad 17, jaman Belanda. Akibatnya Bangka-Belitung menjadi incaran para pedagang dan pengusaha tambang hingga saat ini, meski bekas-bekas penambangan masih banyak yang belum direklamasi.

‘Tamat’

Data diambil dari beberapa kisah petuah kampung dan referensi Wikipedia 

Penulis : Hairul Anwar Al-Ja’fary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *