Example 728x250.

Babel Berdebat tentang Energi Nuklir: Antara Harapan dan Kekhawatiran

banner 120x600

Cakrawalanational.news-Pangkalpinang, Saat ini secara umum disepakati bahwa dunia harus segera mengurangi emisi karbon untuk memerangi perubahan iklim yang berbahaya, tetapi “bagaimana” proses tersebut masih menjadi perdebatan.

Kendati demikian, dalam perdebatan itu tampaknya tidak ada yang menghasilkan sudut pandang yang begitu bertentangan selain energi nuklir.

Sementara, beberapa ahli dan pendukung berpendapat bahwa tenaga nuklir bebas karbon merupakan satu-satunya harapan nyata untuk menjaga suhu planet tetap terkendali. Sedangkan yang lain mengklaim bahwa nuklir berisiko, tidak perlu, dan terlalu mahal untuk memberikan dampak yang signifikan.

Menarik kesimpulan tersebut, arahan diskusi publik tentang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung (Babel) memunculkan perdebatan sengit antara harapan akan energi bersih dan kekhawatiran akan risiko lingkungan.

Hal itu digelar dalam acara “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi Data dan Fakta” di Hotel Aston Pangkalpinang Babel, Sabtu (7/2/2026), menjadi ruang penting bagi akademisi, pengembang teknologi, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil untuk membahas isu ini.

“Nuklir memang rendah emisi karbon, tetapi tidak otomatis berarti rendah risiko. Evaluasi tapak adalah jantung dari seluruh proses,” kata Dr. Ahmad Nahwani, S.T, M.T, pemateri analisis dampak lingkungan PLTN sembari menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mempertimbangkan pembangunan PLTN.

Artinya kata Ahmad, Bangka Belitung dengan garis pantai yang panjang dan ekosistem laut yang rapuh, menjadi lokasi yang sensitif untuk proyek energi besar.

Disisi lain, ribuan keluarga menggantungkan hidup pada perikanan tangkap dan pariwisata bahari, sektor yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.

Di tempat yang sama, menurut Tim Pemateri Kesiapan SDM PLTN, Dr. Agus Puji Prasetyono mengungkapkan bahwa pembangkit tenaga nuklir tidak bisa dilakukan dengan cara coba-coba.

“PLTN tidak bisa dijalankan dengan pendekatan coba-coba. Ia membutuhkan SDM terlatih, beretika, dan sistem keselamatan berlapis,” ujar Dr. Agus Puji Prasetyono, pemateri kesiapan SDM PLTN, menyoroti kebutuhan akan sumber daya manusia yang mumpuni.

Oleh sebab itu, diskusi ini juga menyingkap dimensi politik energi, di mana nuklir menuntut kehadiran negara secara penuh dalam regulasi yang kuat, pengawasan independen, serta kesiapsiagaan darurat yang teruji.

“Energi nuklir adalah tes Rorschach: Anda melihat apa yang ingin Anda lihat – masa depan nuklir yang cerah atau dinosaurus dunia lama yang perlahan-lahan sekarat,” kata seorang ahli, menggambarkan kompleksitas perdebatan tentang energi nuklir.

Fakta dan Data:

– Evaluasi tapak PLTN mencakup aspek geologi, seismik, hidrologi, ekologi, sosial, dan tata ruang.
– PLTN dapat menyediakan listrik stabil dalam skala besar, tetapi risiko lingkungan dan keselamatan harus dikelola dengan ketat.
– Bangka Belitung memiliki potensi energi nuklir, tetapi keputusan pembangunan harus didasarkan pada pertimbangan yang matang dan partisipasi publik yang luas.

(SGP/CNN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *