Cakrawalanational News-Koba, Telah berjalan lima tahun kepemimpinan dibawah Bupati Algafry Rahman (Ayi-red), Bangka Tengah tak ada nampak terlihat dimata ku kemajuan yang signifikan dalam pembangunan fisik maupun ekonomi. Hal itu terutama dalam hal pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat kecil, wabil khusus wilayah Simpangkatis dan Sungaiselan. Apakah ini dinamakan daerah kabupaten stagnasi atau Kemajuan?”.
Apakah Kabupaten Bangka Tengah pantas digelar kabupaten stagnasi alias jalan di tempat,,,? Saya rasa, mungkin itu adalah istilah yang masih dalam tingkat kewajaran, dari pada Kabupaten yang mengalami kemunduran alias ‘bangkrut’.
Perlu diketahui, bahwa stagnasi adalah keadaan tidak bergerak, tidak aktif, atau tidak maju. Stagnasi dapat terjadi dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, kehidupan pribadi, dan kehidupan profesional.
Nah, disini kita mengupas stagnasi yang terjadi di dalam daerah Kabupaten Bangka Tengah, dalam sisi pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang lambat atau datar, berkinerja di bawah potensinya, pengangguran dan setengah pengangguran yang substansial, akibatnya bukan tidak mungkin terjadi inflasi di tengah kehidupan masyarakat.
Kalau ini terjadi, bagaimana peran kepala daerah atau Bupati mengatasi fenomena kehidupan sosial masyarakatnya agar lepas dari belenggu kesulitan ekonomi kerakyatan tersebut.
Sejatinya pemimpin yang ideal itu dapat membangun infrastruktur untuk membantu meningkatkan pendapatan masyarakatnya, dengan membuat program-program vokasional dalam hal keterampilan masyarakat, seperti halnya :
– Membuka lapangan kerja baru melalui investasi dan pengembangan industri lokal.
– Meningkatkan akses ke pasar dan memfasilitasi pemasaran produk lokal.
– Mengembangkan program bantuan sosial untuk masyarakat yang membutuhkan.
– Meningkatkan akses ke fasilitas kesehatan dan pendidikan yang terjangkau.
– Mengembangkan program kredit mikro untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
– Meningkatkan akses ke lembaga keuangan formal dan informal.
– Mengembangkan pariwisata lokal dan meningkatkan akses ke destinasi wisata.
– Meningkatkan produksi dan pemasaran produk lokal.
– Mengembangkan infrastruktur pendukung ekonomi lokal, seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan lain-lain.
Meski Bangka Belitung mengalami keterpurukan akibat perkara komoditas timah 271 triliun, namun Bangka Tengah jangan selalu terhanyut dengan situasi kondisi tersebut?” Saya rasa jawabannya, apakah Bangka Tengah sudah melaksanakan kegiatan program yang tertera di atas,,,?”
Kalau belum, dimana visi-misi yang pernah terlontar saat kampanye,,,? dan, kalau sulit merealisasikannya, apa kendalanya,,,? mungkinkah anggaran pendapatan asli daerah (PAD) yang minim atau anggaran pendapatan belanja daerahnya (APBD) yang sedikit. Saya rasa itu semua tergantung pada daerah dan pemimpinnya, kalau pemimpinnya cakap dan lihai, Insyaallah daerahnya sejahtera.
Namun sebaliknya, jika pemimpinnya stagnan dan jalan di tempat tentu daerah tak akan berkembang dan mandek, akibatnya masyarakat akan terkena imbasnya karena saling ketergantungan antara satu dengan yang lain.
Disisi lain, APBD Bangka Tengah yang diperkirakan sebesar Rp934,89 Miliar pada 27 Maret 2023, saya rasa anggaran yang tidak sampai 1 triliun itu, memang sangat minim untuk mendongkrak pembangunan di daerah sendiri.
Alih-alih mau membangunkan proyek fisik, mungkin untuk belanja aparatur negara saja harus hitung-hitungan dulu. Oleh sebab itu saya rasa Bupatinya harus ekstra keras mencari dana tambahan untuk mendongkrak ekonomi rakyat dan pembangunan sarana dan prasarananya, baik dari sisi pertanian, perkebunan, peternakan, pariwisata bahkan pertambangan.
Dengan demikian, semoga pada periode ke-dua Bupati terpilih kembali ini dapat membawa daerah yang punya gelar ‘Selawang Segantang’ tersebut bisa menjadi daerah yang sukses dan sebagai barometer dari daerah yang lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, amin.
Penulis: Hairul Anwar Al-Ja’fary


.












