Example 728x250.

H. Yus Derahman: 120 Calon Paskibraka Bangka Barat di Barisan Merah Putih Haus Mempunyai Semangat Kemerdekaan

banner 120x600

Penulis: Belva Al Akhab

Cakrawalanational.news-Mentok, Bangkabarat, Pagi itu, Senin (13/04/2026) tidak sekadar pagi biasa. Di bawah langit yang menggantungkan sisa embun dan harapan, Gedung Graha Aparatur Kabupaten Bangka Barat menjelma menjadi ruang yang penuh makna. Tempat di mana mimpi-mimpi muda dipanggil untuk diuji, ditempa dan diarahkan menuju sesuatu yang lebih besar dari sekadar diri sendiri dalam pengabdian kepada bangsa.

Sebanyak 120 pelajar terbaik berdiri dalam satu barisan tak kasat mata sebagai barisan harapan. Mereka datang dari desa-desa pesisir yang jauh, dari lorong-lorong kota yang sederhana, dari rumah-rumah yang menyimpan doa orang tua yang tak pernah putus. Mereka datang dengan satu kesamaan dalam keinginan untuk menjadi bagian dari sejarah, meski hanya dalam satu momen pengibaran bendera.

Di hadapan mereka, berdiri Wakil Bupati Bangka Barat, H.Yus Derahman. Namun pagi itu, ia bukan sekadar pejabat. Ia hadir sebagai suara yang menggugah, sebagai narasi hidup yang mencoba mengikat masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas kebangsaan.

Dengan intonasi yang tidak meledak-ledak, tetapi justru dalam dan menghunjam, ia menanamkan satu pesan yang tak mudah dilupakan.

“Di sinilah kalian tidak hanya diuji, tetapi dibentuk. Di sinilah kalian belajar bahwa menjadi bagian dari bangsa ini adalah kehormatan yang harus diperjuangkan.” jelas H.Yus Derahman dengan nada semangat di depan para calon paskibraka.

Kata-kata itu tidak sekadar terdengar, tetapi meresap, mengalir dan menetap dalam dada para peserta.

Seratus dua puluh peserta itu bukan sekadar angka. Mereka menjadi 120 denyut yang berdetak dalam satu irama dalam semangat kemerdekaan.

Di antara mereka, ada yang datang dengan sepatu yang mulai menipis di bagian solnya. Ada yang menyembunyikan kegugupan di balik senyum tipis. Ada pula yang memendam tekad yang tak pernah terucap, namun terlihat jelas dari cara mereka berdiri dengan tegak, meski dunia di belakang mereka mungkin tidak selalu ramah.

Di titik inilah, H.Yus Derahman membangun narasi yang lebih besar dari sekadar seleksi. Menjadikan Paskibraka sebagai ruang pembentukan jiwa.

Bagi dirinya, 120 peserta ini bukan sekadar calon pengibar bendera, tetapi embrio generasi yang akan menjaga marwah bangsa di masa depan.

Ia seolah ingin mengatakan bahwa bangsa ini tidak kekurangan pemuda, tetapi sering kali kekurangan pemuda yang sadar akan makna perjuangan.

Dalam sambutannya, H.Yus Derahman membawa para peserta menembus waktu kembali ke sebuah titik sakral dalam sejarah bangsa yaitu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ia tidak sekadar menyebut tanggal itu. Ia menghidupkannya.

Ia menggambarkan bagaimana bendera merah putih pertama kali berkibar bukan sebagai simbol seremonial, tetapi sebagai tanda perlawanan, keberanian, dan tekad untuk merdeka dari segala bentuk penindasan.

“Bendera itu bukan sekadar kain. Ia adalah saksi dari darah yang tumpah, dari air mata yang jatuh, dan dari harapan yang tidak pernah padam,” ucapnya, dengan nada yang menahan getar api semangat kemerdekaan.

Di hadapan 120 pasang mata yang menyimak, kata-kata itu berubah menjadi energi. Energi yang perlahan menyalakan kesadaran bahwa menjadi Paskibraka bukan sekadar kebanggaan pribadi, tetapi tanggung jawab sejarah.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, di mana identitas sering kali tergerus oleh arus global, H.Yus Derahman kembali menegaskan bahwa fondasi bangsa tidak boleh goyah.

Ia menyebut Pancasila bukan sebagai teks yang dihafal, tetapi sebagai nilai yang harus dihidupi.

Baginya, Paskibraka sebagai medium untuk memastikan bahwa generasi muda tidak tercerabut dari akar kebangsaan. Bahwa di tengah modernitas, mereka tetap memiliki pijakan yang kokoh.

“Kalau kalian hanya kuat secara fisik, itu belum cukup. Bangsa ini butuh kalian yang kuat secara jiwa,” tegasnya.

Di balik narasi besar itu, terselip kisah-kisah kecil yang justru menjadi jiwa dari peristiwa ini.

Seorang peserta tampak menutup mata sejenak, menarik napas panjang, seolah sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Di dekatnya, seorang siswi merapikan kerah bajunya berulang kali bukan karena salah, tetapi karena gugup yang tak bisa disembunyikan.

Di sudut lain, ada yang diam-diam menatap bendera merah putih yang tergantung. Tatapannya bukan sekadar melihat, tetapi merasakan seolah sedang berbicara dengan sejarah yang tak pernah ia alami, namun ia warisi.

Di luar gedung, mungkin ada ibu yang menunggu dengan doa yang tak bersuara. Ada ayah yang berharap dalam diam. Di dalam, anak-anak mereka sedang belajar menjadi lebih dari sekadar anak, mereka sedang belajar menjadi bagian dari bangsa.

Dalam arahannya kepada panitia, H.Yus Derahman menekankan satu hal yang menjadi garis tegas dari seluruh proses ini yaitu integritas.

“Jangan hanya memilih yang terlihat kuat. Pilih yang benar-benar layak. Yang punya jiwa. Yang bisa menjaga kehormatan,” ujarnya.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Ia sadar bahwa mereka yang terpilih nanti akan menjadi wajah Bangka Barat, bukan hanya di tingkat daerah, tetapi juga di mata bangsa.

Karena itu, seleksi ini bukan sekadar kompetisi. Ia sebagai proses penentuan siapa yang akan membawa simbol negara dengan penuh kesadaran.

Di balik seluruh rangkaian kata dan suasana, tersusun sebuah pesan yang lebih besar tentang kepemimpinan.

H.Yus Derahman tidak tampil dengan retorika kosong. Ia membangun narasi. Ia menanamkan makna. Ia menjadikan momentum ini sebagai ruang untuk menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kebijakan, tetapi tentang kemampuan menyalakan kesadaran kolektif.

Ia memposisikan dirinya sebagai jembatan antara sejarah dan generasi muda, antara nilai dan realitas, antara harapan dan tindakan.

Melalui 120 peserta ini, ia seperti sedang menulis pesan kepada masa depan bahwa Bangka Barat sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berjiwa kebangsaan.

Ketika acara ditutup, tidak ada gemuruh yang berlebihan. Yang tersisa justru keheningan yang penuh arti.

Karena semua yang hadir tahu ini bukan akhir, melainkan awal.

Dari 120 peserta, hanya sebagian yang akan terpilih. Namun sejatinya, semuanya telah melewati satu tahap penting untuk menyadari bahwa mereka sebagai bagian dari bangsa yang besar.

Di Gedung Graha Aparatur pagi itu, sejarah tidak ditulis dengan tinta. Ia ditulis dengan semangat.

Di tengah semua itu, suara H.Yus Derahman masih terasa bergema, seolah berbisik kepada setiap peserta.

(Red)

Berdirilah tegak. Bukan hanya untuk hari ini. Tetapi untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *