Example 728x250.

H.Yus Derahman Hadir: Generasi Qur’ani Bangka Barat Mulai Ditempa dari Tempilang

banner 120x600

Penulis: Belva Al Akhab

Cakrawalanational.news-Tempilang, Bangkabarat — Sebanyak 295 santri mengikuti Munaqosah TKA/TPA yang diselenggarakan oleh LPPTKA-BKPRMI Kecamatan Tempilang di Masjid Al Hidayah Tempilang, Sabtu (4/4/2026). Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh H. Yus Derahman, yang menegaskan bahwa munaqosah bukan sekadar ujian membaca Al-Qur’an, melainkan proses pembentukan karakter generasi Qur’ani.

“Ini bukan hanya tentang membaca Al-Qur’an, tetapi bagaimana memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Yus Derahman di hadapan para santri, ustadz, dan orang tua.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pembinaan pendidikan keagamaan di Bangka Barat, sekaligus memperlihatkan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat fondasi moral generasi muda.

Di balik data kehadiran dan rangkaian acara formal, suasana di dalam masjid menyimpan cerita yang lebih dalam.

Anak-anak berseragam biru duduk bersila di atas sajadah hijau. Bibir mereka bergerak perlahan, melafalkan ayat-ayat suci. Ada yang percaya diri, ada pula yang menunduk dengan tangan gemetar saat membuka mushaf.

Seorang anak perempuan di barisan depan tampak menarik napas panjang sebelum mulai membaca. Suaranya sempat bergetar, namun perlahan menguat. Di belakangnya, seorang anak laki-laki menatap lurus ke depan, seolah menantang dirinya sendiri.

Di sudut ruangan, seorang ibu menatap dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi sorot matanya menyimpan perjalanan panjang dari mengantar anak ke TPA hingga menyaksikan hari ujian ini.

Di dekatnya, seorang ustadzah tersenyum kecil. Tangannya menggenggam lembar penilaian, tetapi matanya lebih banyak berbicara tentang kebanggaan.

Munaqosah, di ruang itu, bukan sekadar ujian. Ia adalah pertemuan antara doa, kerja keras, dan harapan.

Dalam konteks pendidikan Islam, munaqosah menjadi tahapan penting dalam mengukur bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga pemahaman dan pengamalan nilai.

Penelitian dari Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini berkontribusi besar dalam membentuk karakter anak, terutama dalam hal kedisiplinan, etika, dan empati sosial.

Hal ini diperkuat dalam jurnal Pendidikan Islam Kontemporer (2021) yang menyebutkan.
“Internalisasi nilai Al-Qur’an sejak dini menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang berintegritas dan berakhlak mulia.”

Di Tempilang, teori itu tampak hidup. Ia hadir dalam suara anak-anak, dalam tatapan orang tua, dan dalam kesabaran para pengajar.

Dalam pidatonya, H. Yus Derahman menempatkan pendidikan keagamaan sebagai fondasi pembangunan daerah.

Ia menyebut para ustadz dan ustadzah sebagai “arsitek peradaban,” sementara orang tua disebutnya sebagai “penjaga doa yang tak pernah padam.”

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia membangun narasi bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga manusia.

Kehadirannya di tengah kegiatan ini memperlihatkan pendekatan kepemimpinan yang berorientasi pada nilai sebuah citra yang semakin menguat sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat dan peduli terhadap generasi muda.

Namun di balik suasana khidmat, terdapat tantangan yang tidak kecil.

Beberapa pengelola TPA mengakui bahwa kegiatan pendidikan Al-Qur’an masih menghadapi keterbatasan, baik dari segi fasilitas maupun dukungan anggaran. Banyak kegiatan berjalan atas dasar swadaya masyarakat.

Data dari Badan Pusat Statistik juga menunjukkan bahwa pendidikan non-formal di wilayah pedesaan masih menghadapi ketimpangan.

Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi krusial.

Kehadiran Yus Derahman dalam kegiatan ini dapat dibaca sebagai sinyal bahwa perhatian terhadap pendidikan berbasis keagamaan mulai diperkuat. Namun, keberlanjutan komitmen tersebut tetap menjadi harapan masyarakat.

Di tengah acara, seorang anak kecil selesai membaca ayatnya. Ia menunduk, lalu tersenyum kecil saat penguji mengangguk.

Di kejauhan, ibunya mengusap air mata.

Momen sederhana itu mengandung makna besar bahwa pendidikan bukan sekadar proses formal, tetapi perjalanan emosional yang melibatkan keluarga, guru dan lingkungan.

Menurut UNESCO, keterlibatan keluarga dalam pendidikan berbasis nilai spiritual terbukti meningkatkan keberhasilan anak secara akademik dan emosional.

Apa yang terjadi di Tempilang hari itu adalah bukti nyata dari hal tersebut.

Saat acara ditutup dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, gema takbir kecil terdengar. Anak-anak berdiri, sebagian tersenyum lega, sebagian masih memeluk mushaf mereka erat.

Di bawah kubah Masjid Al Hidayah Tempilang, sebuah pesan tertinggal bahwa masa depan tidak hanya dibangun dengan jalan dan bangunan, tetapi dengan nilai yang ditanam sejak dini.

Di tengah proses itu, Bangka Barat sedang membentuk wajah barunya melalui generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman.

Sementara H. Yus Derahman berdiri sebagai simbol dari arah itu untuk memimpin tidak hanya dengan kebijakan, tetapi juga dengan nilai.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *