Episode 3
Cakrawalanational.news-Pangkalpinang, Ternyata di Kepulauan Bangka Belitung (Babel), banyak cerita riwayat yang sulit terjawab kebenarannya bahkan nyaris tak berbekas. Hal itu dikarenakan kemungkinan ada indikasi faktor kesengajaan dari penjajah atau memang ketidaktahuan informasi data autentik dari masyarakat awam.
Seperti halnya pada peristiwa perang sebelum kemerdekaan tahun 1804, ketika itu Kesultanan Mahmud Badarudin II ditangkap Belanda dan dibuang ke Manado, lalu Kesultanan digantikan oleh Sultan Najamudin II (Husin Dhiauddin) 1813 yang diangkat oleh Belanda. Liciknya lagi, Belanda membuka Residen di Palembang semenjak itulah Kepulauan Bangka-Belitung (Babel) menjadi target penyerangan Penjajah Belanda.
Kendati demikian, perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin langsung Sultannya sendiri sekaligus sebagai Panglima Perang tidak lain adalah Fatih Kriopanting (Panglima Pantun) dan didampingi Hulu Balangnilam sebagai Komandan Pasukan Kesultanan. Mereka berdua merupakan Saudara Seperguruan yang mempunyai keahlian ilmu bela diri ketangkasan silat, yang sering dikenal sebagai Silat Sambut dan ilmu kebatinan yakni Batintikal (ilmu tubuh terpotong sambung kembali-red).
Salah satu Benteng pertahanan Pejuang Sejati ini ada di Desa Tanjungtedung dan Pulau Nangka Kecamatan Sungaiselan Bangka Tengah (Bateng). Karena secara strategis perang, Belanda tidak bisa langsung masuk ke Sungai Bangka Kota (Kute) dikarenakan sungai dangkal, apalagi Belanda menggunakan Kapal besar.
Namun demikian, akal bulus Belanda mencari jalur masuk melalui Sungaiselan yang lebih dalam dan lebar. Hal itulah yang dilakukan Pasukan Batintikal membuat pertahanan di Tanjung Tedung dan Pulau Nangka lantaran dekat dengan Kuala Sungai Selan.
Celakanya, sejurus kemudian Belanda menggunakan politik de vede et empera (pecah belah), pada tahun 1823 Belanda berhasil menghasut Hulu balangnilam untuk bersebahatjahat berkerja sama dengan Kompeni Belanda melawan Fatih Kriopanting (Batintikal) yang tidak lain adalah kakak Sepergurannya sendiri dengan dijanjikan Belanda bakal diangkat menjadi Sultan di Bangka.
Sialnya, Hulu balangnilam menyetujui perjanjian tersebut tanpa kendala, sementara Kapal Belanda pun dengan mulus bersandar di Sungaiselan dan menyerang Ke Bangka Kota melalui jalur darat secara diam-diam. Dengan Pasukan besar, Belanda bergabung dengan pasukan Hulu balangnilam yang telah menjadi Penghianat.
Atas peristiwa itu, pada tahun 1851 Hulu Balangnilam berhasil membunuh Fatih kriopanting (Batintikal) dengan cara memenggal kepalanya, lalu kepala Fatih Kriopanting dibawa ke Resident Belanda di Palembang. Kononnya, dihadapan Keresidenan Belanda Kepala Fatih kriopanting masih bisa berbicara dengan pantun agar kepalanya dikembalikan ke Pulau Bangka. Seperti dalam riwayat berbunyi, ”Kriopanting secupat jada, pisah badan lah biasa, Kriopanting pulang ke bangka, kalo dak gempur negeri belanda”.
Melihat fenomena ancaman itu, maka sampailah terdengar ke telinga Keluarga Kerajaan Negeri Belanda, sehingga atas perintah langsung dari Ratu Belanda agar Mayor Bekcing mengembalikan kepala Fatih Kriopanting ke Pulau Bangka.
Namun ironisnya, sesampai di Bangka tepatnya di Sungaiselan Mayor Bekcing penasaran ingin memotong rambut Sang Fatih (Batintikal) tetapi secara mendadak petir menyambar tubuh Mayor Bekcing hingga gosong dan tewas. Sejurus kemudian, melihat peristiwa yang disaksikan dengan mata kepala sendiri Hulu Balangnilam. Ternyata Sang Penghianat Hulu Balangnilam pun tak tinggal diam, Ia semakin beringas dan marah langsung memegang kepala Fatih Kriopanting, sayangnya tangan Hulu Balangnilam tak bisa lepas seperti lengket hingga badannya mengering dan tewas.

Setelah peristiwa naas itu terjadi, Mayor Bakcing dimakamkan di Sungaiselan Bangka Tengah (Bateng) sedangkan Hulu Balangnilam dimakamkan di Desa Gudang Bangka Selatan (Basel). Akan tetapi sebelum dimakamkan Fatih Kriopanting sempat menyampaikan pesan kepada anak dan cucu keturunannya melalui pantun yang terkenal berbunyi “Krio Panting putus berdenting, cupak gantang dak berubah, harta dan tahta dak penting, saudara, iman dan harga diri nak dijaga”.
Lalu, Pendekar Sejati berketurunan kesultanan ini meminta dimakamkan kepalanya di atas makam Hulu Balangnilam yang tak lain adalah adik seperguruannya sendiri sebagai nisan Kuburnya. Makam tersebut terletak di Desa Gudang Basel.
Kalau ditarik dari kesimpulan makna cerita tersebut, bisa diartikan sebagai pesan moral dalam hidup manusia di dunia ini, artinya ”kamu tega membunuh saudaramu maka sebagai nisannya adalah kepala saudara mu sendiri”.
Tentu, kalau sekilas kita membaca dari implikasi riwayat cerita Sang Pendekar sangatlah mendalam sekali. Hal itu terbukti, banyaknya menggunakan bahasa-bahasa sastra yang menyentuh hati dan jiwa. Tak ayal, kalau Sang Sultan Muhammad Ali menyandang banyak gelar, mulai dari nama Kriopanting dan Batintikal.
Oleh : Hairul Anwar Al-Ja’fary


.












