Dato Penghulu H.Marwan Al-Ja’fary: Alhamdulillah, tahun ini suasananya lebih hidup, rumah-rumah terbuka
Cakrawalanational.news-Sungailiat, Suasana Tahun Baru 1 Muharram 1447 Hijriah di Kenanga kembali semarak. Tradisi “open house” yang sempat longgar tahun lalu ternyata pada tahun ini mulai menggeliat lagi. Pasalnya, para Warga Kenanga antusias membuka rumah, sementara tamu dari berbagai daerah datang bersilaturahmi.
Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Dato’ Panghulu Haji Marwan Al-Ja’fary, DPMP turut hadir dalam perayaan “Lebaran di Kenanga” pada Sabtu (28/6).
Ia menyambut positif meningkatnya keramaian dibanding tahun sebelumnya, sembari mengungkapkan rasa syukurnya dengan suasana penuh kegembiraan.
“Alhamdulillah, tahun ini suasananya lebih hidup, rumah-rumah terbuka banyak tamu dari luar Kenanga datang bersilaturahmi. Semangat kebersamaan kembali terasa,” ujarnya.
Haji Marwan mengenang bahwa tahun lalu musyawarah adat memberikan kelonggaran. Warga Kenanga dibolehkan menggelar “open house”, namun tidak diwajibkan. Akibatnya, sebagian besar memilih untuk tidak melaksanakannya.
“Mungkin karena kondisi ekonomi waktu itu yang belum pulih. Banyak yang memilih tidak ‘open house’. Dampaknya, suasana sepi,” kenangnya.
Namun tahun ini, kata Marwan, Kenanga kembali menjadi tujuan banyak orang untuk berkunjung.
“Memang belum seramai dua atau tiga tahun lalu, tapi arahnya positif. Ramai lagi, dan ini tentu jadi kegembiraan bagi kita semua, khususnya MABMI,” ucapnya.
Menurut Dato’ Panghulu, tradisi open house warga Kenanga setiap 1 Muharam ini bukan hanya unik, tapi satu-satunya di dunia Islam.
“Setahu kami, belum ada tradisi lain di belahan dunia mana pun, di mana satu kampung membuka pintu serentak untuk menyambut tamu dari berbagai daerah khusus di hari pertama Muharam. Ini warisan budaya yang patut dibanggakan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa ‘open house’ bukan sekadar menjamu tamu, melainkan wujud nyata dari semangat berbagi dan mempererat silaturahmi antar warga, baik tuan rumah maupun tamu yang datang.
“Yang penting bukan soal mewah atau tidaknya jamuan, tapi ketulusan dalam menyambut siapa pun yang datang. Inilah makna budaya kita yang harus terus dijaga,” tuturnya.
Haji Marwan berharap semangat ini terus terpelihara agar Muharam bukan hanya menjadi penanda tahun baru Islam, tetapi juga momen memperkuat hubungan sosial dan nilai-nilai kebudayaan Melayu.
(Hairul Anwar Al-ja’fary)


.












