Example 728x250.

Puluhan Tahun Hidup di Tangsel, Kedua Gadis Berkebutuhan Khusus Tak Mendapat Perhatian Dari Pemerintah

banner 120x600

CNN-Tangerang, Layaknya, setiap orang tua pastilah mendambakan anaknya tumbuh berkembang normal. Namun, beda halnya dengan nasib malang kedua anak gadis yang satu ini.

Pasalnya, kedua gadis ini tumbuh berbeda dengan anak pada umumnya, karena memiliki keterbatasan atau hambatan yang biasa disebutkan banyak orang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Anak berkebutuhan khusus (ABK) sendiri merupakan anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan kondisi medis, kejiwaan atau kondisi bawaan tertentu. Tak heran, kalau mereka membutuhkan perhatian khusus dan penanganan pemerintah supaya mencapai kondisi yang stabil.

Kedua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ini beralamat di Kp. Parigi RT03 dan RW 06 Kelurahan Parigi Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten. Kedua anak gadis berkebutuhan khusus itu bernama Umi Kulsum (27 tahun) dan Eliana Aprilia (25 tahun).

Keduanya hidup Puluhan Tahun di Tangerang Selatan, Parahnya lagi Kedua anak gadis ini tidak memiliki sosok Ibu selama sekitar 10 tahun. Mereka hidup bersama sang ayah yang sering mengalami sakit-sakitan.

Ironisnya, dengan hidup yang serba kekurangan itu, jangankan mendapatkan pendidikan, untuk bantuan asupan gizi yang baik pun tak dirasakannya.

Oleh sebab itu, polemik ini belum terlihat perhatian khusus dari Pemerintahan setempat baik Kelurahan, Kecamatan, Pemkot Tangerang Selatan maupun Provinsi Banten. Akibatnya keberadaan mereka terkesan terabaikan dari tanggungjawab pemerintah.

Menurut Eko Budi S (51thn), sebagai ayah dari Kedua ABK itu saat dikonfirmasi di kediamannya, mengaku sudah 20 tahun hidup bersama keluarga di Tangerang Selatan (Tangsel). Selama di Tangsel memiliki kedua anak gadis yang berkebutuhan khusus. Celakanya, hingga sampai saat ini tidak ada sama sekali bantuan dan perhatian dari Pemkot Tangsel.

“Kedua anak saya selama 20 tahun, tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah baik Kelurahan maupun pemkot Tangsel, bahkan dirasa seperti tidak dianggap keberadaannya,” kata Eko penuh lirih, Kamis (12/12/2024).

Dengan kondisi dimakan usia, Eko sering mengalami sakit ketika ingin bekerja. Dirinya mengaku hanya bisa menafkahi anak anaknya dengan serba kekurangan, sebab tidak ada penghasilan tetap yang Ia dapatkan.

“Kerja ikut-ikut orang, muter gitu, kadang nggak kuat apalagi kehujanan, sakitnya minta ampun, tapi kalau nggak ikut kerja gimana. Namanya juga rejeki kadang dapat kadang tidak,” tuturnya.

Ditanya soal pendidikan, dia mengaku selama puluhan tahun Kedua anaknya tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintahan. Kalau untuk masalah anaknya terdaftar atau tidak di SKH yang ada di Tangsel dia mengaku tidak tahu.

“Soal Kedua anak saya terdaftar di SKh atau tidak, saya tidak tahu, yang jelas selama puluhan tahun Kedua anak saya memiliki Keterbatasan khsusus dan tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah,” tandasnya.

Bahkan kata Eko, dirinya dan kedua Anaknya yang berkebutuhan khusus itu luput dari pantauan Dinas Sosial Pemkot Tangsel. Karena kata Eko, sudah puluhan tahun di Tangsel tak pernah mendapatkan sokongan bantuan sosial baik PKH (Program Keluarga Harapan) atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Kami tidak pernah mendapatkan bantuan sosial dari Kementrian Sosial, seperti PKH atau BPNT, entah apa penyebabnya, yang jelas Kami tidak mengerti peraturan pemerintah disini,”, terangnya.

Parahnya lagi saat ini Ia beserta anak gadisnya yang berusia 25 tahun sedang sakit, kemarinpun menurutnya, mereka harus membawa anaknya ke daerah kebayoran untuk berobat.

“Anak saya yang bungsu lagi sakit kemarin di bawa berobat, meskipun saya juga sakit,” paparnya.

Hingga berita ini di kirim ke Redaksi awak media belum mendapatkan keterangan dari Kelurahan, Kecamatan maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan.

(Rdf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *