Example 728x250.

Pemilukada Babel, Masyarakat Memilih Calon Pemimpin ‘Busuk’ atau ‘Buruk’

banner 120x600

CNN–Pangkalpinang, Kalau dalam peribahasa yang satu ini mungkin tak asing lagi didengar, ‘tak ada rotan akarpun jadi’, kira-kira artinya dalam keadaan terpaksa, manusia harus kreatif untuk memecahkan masalahnya sendiri untuk memilih jalan terbaik.

Nah, kira-kira kalau pribahasa itu diibaratkan dengan dihadapkan untuk memilih seorang pemimpin khususnya di Negeri Serumpun Sebalai ini (Bangka Belitung-red) jika ditafsirkan harus memilih seseorang pemimpin diantara dua calon pemimpin yang berkarakter mirip tetapi tak sama, semisalnya calon yang satu orangnya ‘busuk’ dan calon yang kedua adalah ‘buruk’.

Artinya, kedua orang calon pemimpin tersebut ‘kate urang Bangka sebelas-due belas lah’ atau sama-sama memiliki karakter yang jelek, maka bagi masyarakat pemilih cerdas akan menimbang-nimbang meski tetap memilih diantara dua pemimpin terburuk itu.

Pasalnya, diantara kedua orang calon pemimpin tersebut seandainya, calon pertama memiliki karakter busuk dan calon kedua memliki karakter buruk. Kira-kira calon manakah yang akan dipilih oleh masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini?

Mari kita bahas perumpamaan opini tentang dilema masyarakat dalam menentukan pilihan terhadap dua calon pemimpin di negeri ini, yang memiliki karakter yang satunya busuk dan yang satunya buruk.

Dalam hidup berdemokrasi tentunya kita diwajibkan harus memilih seorang pemimpin, namun idealnya pemimpin yang terbaik dan dapat memberikan efek positif dan azas manfaat terhadap masyarakat luas. Hal itu akan direalisasikan pada pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) serempak pada 27 November 2024 mendatang.

Namun ironisnya, kalau seandainya fenomena Pemilihan kepala daerah yang dipaksakan harus memilih calon pemimpin diantara dua calon yang memiliki karakter busuk dan buruk, kemungkinan masyarakat akan berpaling bahkan tak mencoblos. Kendati hal tersebut hukumnya wajib maka dengan keadaan yang memaksa tentu masyarakat harus memilih diantara dua calon pemimpin terburuk itu. Apakah memilih pemimpin busuk atau yang buruk.

Saya rasa jika itu pertanyaannya, mungkin tidak ada jawaban yang mudah dalam mengatasi dilema memilih di antara pilihan terburuk ini. Hal ini membutuhkan refleksi mendalam tentang nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat, serta penilaian rasional tentang konsekwensi dari setiap tindakan yang diambil.

Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa pemilihan pemimpin merupakan tanggung jawab bersama, dan setiap pilihan yang dibuat memiliki dampak yang signifikan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang terhadap arah sebuah suatu negeri.

Akan tetapi, kalau saya secara pribadi jika dipaksakan untuk memilih pemimpin diantara pilihan terburuk ini tentu saya akan memilih pemimpin yang buruk. Mengapa demikian, karena jika saya harus memilih pemimpin yang busuk walaupun rupanya bagus namun kalau itu diibaratkan seperti barang yang busuk dan tercium aroma tak sedap bak bangkai tentu mendekatinya saja kita tak sanggup, apalagi untuk memilihnya.

Kendati demikian, kalau barang itu hanya rupanya saja yang buruk namun di dalamnya ternyata tidak, dan tak berbau busuk maka bisa jadi kita bisa mendekat dan memilihnya meski dalam keadaan terpaksa.

Maknanya, dari kesimpulan artikel yang saya tulis, tentu masyarakat harus berhati-hati memilih pemimpin, khususnya pemimpin negeri Serumpun Sebalai yang sama-sama kita cintai, yang penuh kaya sumber daya alam ini.

Wabil khusus bagi masyarakat pemilih awam yang hanya melihat calon pemimpin bagus rupa pada ‘kulit luarnya’ saja padahal di dalamnya busuk.

Tentu ini merupakan suatu kemunafikan seorang calon pemimpin, karena ciri-ciri pemimpin munafik itu adalah ketika Ia mengatakan sesuatu yang berbeda dengan tindakannya, atau tidak sesuai dengan janji atau nilai-nilai yang telah diutarakan.

Pemimpin busuk, identik dengan kemunafikan yang dapat berdampak negatif dan krisis kepercayaan terhadap pengikutnya. Kemunafikan dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang dapat meningkatkan niat untuk keluar dari kelompok yang Ia pimpin. Celakanya, pemimpin munafik tega mengorbankan anak buahnya sebagai tumbal demi untuk menyelamatkan diri sendiri dari sebuah ancaman. Oleh sebab itu, pemimpin busuk seperti ini begitu sangat mengerikan jika terpilih menjadi penguasa suatu negeri.

Menurut beberapa sumber, bahwa ciri-ciri pemimpin yang tidak baik diikuti, diantaranya: menolak saran dan kritik anggota, membuat keputusan impulsif, tidak konsisten, kurang empati, dominasi berlebihan menggunakan dana, kurang transparansi terhadap masyarakat.

Sebaliknya, seorang pemimpin yang baik memiliki beberapa sifat, di antaranya:
Jujur, dapat membangun komunikasi, bersikap adil, memiliki manajemen waktu yang baik, dapat membangun tim dengan baik, bertanggung jawab dan tegas serta mempunyai emosional stabil, wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh : Hairul Anwar Al-Ja’fary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *