CNN–Asahan, Pada momentum yang seharusnya menjadi salah satu paling penting dalam proses pendaftaran bakal calon (Balon) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), sejatinya Ketua Partai Pengusung pastilah hadir dalam pendampingan dengan Balon.
Ironisnya, yang terjadi pada Ketua Partai Gerindra Kabupaten Asahan, Baharuddin Harahap, secara mengejutkan tidak hadir dalam proses pendaftaran pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati yang diusung oleh partainya sendiri.
Wajar saja, ketidakhadiran itu memicu spekulasi dan tanda tanya dikalangan masyarakat dan pengamat politik mengenai alasan dibalik absennya pemimpin partai tersebut, jum’at(30/08/2024).
Fikri Munthe selaku Bendahara Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Asahan menyampaikan komentar kepada Media Cakrawala Nationalnews, dikatakan nya bahwa ini adalah peristiwa tanda tanya besar sehingga menjadi beraneka ragaman persepsi masyarakat, apakah ini sebuah bentuk protes perlawanan atau kekecewaan terhadap kebijakan didalam partainya.
“Meskipun tim sukses pasangan calon dan pengurus partai lainnya hadir dalam prosesi pendaftaran yang berlangsung di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Asahan, ketidakhadiran Ketua Partai Gerindra jelas meninggalkan tanda tanya besar. Apakah ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap proses internal partai, ataukah ini adalah langkah yang lebih tegas sebagai bentuk perlawanan terhadap keputusan yang diambil oleh partai?”, ujar Fikri.
Karena menurut Fikri, berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber internal yang tidak ingin disebutkan namanya, ketidakhadiran ini diduga berkaitan dengan rasa kecewa yang mendalam terhadap proses seleksi calon bupati dan wakil bupati yang dianggap kurang transparan dan tidak sepenuhnya melibatkan seluruh elemen partai.
Ada dugaan bahwa keputusan mengenai pasangan calon ini diambil tanpa melalui musyawarah yang menyeluruh, yang mengakibatkan adanya ketidakpuasan di antara sejumlah petinggi partai.”, jelasnya secara detail
Disamping itu, Fikri menilai ada beragam opini beberapa pihak berpendapat bahwa ketua partai merasa calon yang diusung tidak sepenuhnya merepresentasikan visi dan misi Partai Gerindra, khususnya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat Asahan.
“Ketidakhadiran ini bisa jadi adalah sinyal bahwa ada ketidaksepahaman yang signifikan antara ketua partai dengan keputusan yang diambil oleh struktur partai di tingkat yang lebih tinggi.”, paparnya.
Namun terlepas dari itu ada juga analisis yang menyebut bahwa absennya Ketua Partai Gerindra Asahan bukan hanya sekadar ekspresi kekecewaan, tetapi juga bentuk perlawanan yang lebih tegas terhadap arah kebijakan partai yang dinilai menyimpang dari prinsip-prinsip dasar perjuangan partai.
Ini bisa jadi merupakan langkah awal dari upaya internal untuk merombak kembali keputusan tersebut atau bahkan menuntut perubahan dalam kepemimpinan di tingkat lokal.
“Terakhir kami berharap, Ketua Partai Gerindra Asahan dapat memberikan pernyataan resmi terkait ketidakhadirannya dalam acara pendaftaran tersebut.” Pungkasnya.
(HS)


.












