CNN-Simpangkatis, Dalam rangka acara pelepasan kelulusan SD Negeri (SDN) 1 Simpangkatis tepat pada Senin, 10 Juni 2024 yang dilaksanakan dengan rasa hikmat disertai menyanyikan lagu “Hymne Guru dan Terimakasih GuruKu” bersama murid kelas 6 dan ibu guru lainnya. Lagu tersebut untuk mengingat masa-masa didik para guru kepada muridnya semenjak mulai duduk di kelas 1 hingga lulus kelas 6 Sekolah Dasar.
Kepala Sekolah SDN 1 Simpangkatis, Robiani, S.Pd mengungkapkan bahwa pelepasan ini merupakan hasil didik yang telah mereka laksanakan dalam perjalanan waktu didik 6 tahun. Ia-pun sebelumnya, meminta maaf kepada seluruh anak didiknya, jikalau ada kata-kata atau perbuatannya maka ia atas nama Kepala Sekolah dan guru SD Negeri 1 Simpangkatis semua mohon maaf sebesar-besarnya.
Dalam paparannya ia-pun berharap agar anak-anak didiknya dapat melanjutkan ke sekolah selanjutnya dan hingga sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Sembari ia menambahkan agar anak-anak didiknya menjadi anak yang sholeh dan sholeha dan bermanfaat untuk orang banyak.
Ditambahkannya, supaya orang tuanya mengarahkan anaknya dalam melanjutkan pendidikannya sesuai dengan kemampuan dan kemauan anak itu sendiri. “Jangan dipaksakan anaknya, biarlah sesuai dengan kemauannya, keinginannya sepanjang ia mau bersekolah dan meneruskan pendidikannya”, imbuhnya.
Acara diakhiri dengan pengambilan kelulusan, beserta memanggil walimurid atau orang tuanya, disertai dengan himbauan Kepala Sekolah SD Negeri 1, Robiani, S.Pd agar semua siswa didiknya menjadi anak yang sukses dan “orang besar”.
Namun ironisnya, pada akhir-akhir acara Kepala Sekolah SDN 1 Simpangkatis, Robiani mengatakan beberapa kalimat yang tampaknya sudah diluar konteks. Terkesan kata-kata ocehannya menyinggung perasaan para walimurid yang semestinya tidak perlu disampaikan di acara tersebut, akan tetapi Ia tak henti-hentinya ceplas-ceplos berkata-kata melenceng dari topik pembicaraan. Sehingga diakhir kalimat alur pembicaraannya ngelantur, terkesan dinilai kurang baik dan tak berarti. Bisa jadi, pada kalimat terakhir dari Kepala Sekolah tersebut dapat membawa mudharat kepada semua walimurid (orang tua murid) yang mendengar. Sehingga acara pelepasan kelas 6 SDN 1 Simpangkatis yang semula terkesan baik-baik saja menjadi kurang baik dan di luar ekspektasi walimurid.
“Sebenarnya, kita hadir disini untuk merasa bahagia dan sedih bercampur dengan rasa hikmat karena detik-detik terakhir anak kami baru lulus disitu, namun rasanya diakhir kalimat Kepala Sekolah itu kurang pas dengan kata-katanya dan terlalu banyak bicara ngelantur dan melenceng dari inti acara”, tandas salah satu walimurid yang tak mau disebutkan namanya. (Haj)


.












